<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>tadzkirah</title>
	<atom:link href="http://tadzkirah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tadzkirah.wordpress.com</link>
	<description>Sekedar sebagai Peringatan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 Feb 2012 01:38:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tadzkirah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/3f6d3eefbb5623b7b5e1318733637963?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>tadzkirah</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tadzkirah.wordpress.com/osd.xml" title="tadzkirah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tadzkirah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Nasihat Perkawinan Untuk Putriku</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2012/02/02/nasihat-perkawinan-untuk-putriku/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2012/02/02/nasihat-perkawinan-untuk-putriku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 17:03:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[artikel nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[kakek]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[nenek]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[pernik]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[putri]]></category>
		<category><![CDATA[sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[suami isteri]]></category>
		<category><![CDATA[tanggungjawab]]></category>
		<category><![CDATA[umur]]></category>
		<category><![CDATA[zainal abidin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Khaulah Zainal Abidin  (Seandainya ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa panjangkan umurku dan memberikan kesempatan kepadaku menyaksikan pernikahan putriku tercinta, kira-kira seperti inilah yang ingin aku sampaikan): بسم الله الرحمن الرخيم إن الحمد لله , نحمده ونستعينه , ونستغفره , &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2012/02/02/nasihat-perkawinan-untuk-putriku/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=519&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="rtl" align="center">Oleh: <a href="http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/4jendela-anak/nasihat-perkawinan-untuk-putriku/" target="_blank">Abu Khaulah Zainal Abidin</a></p>
<p align="center"> (<em>Seandainya ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa panjangkan umurku dan memberikan kesempatan kepadaku menyaksikan pernikahan putriku tercinta, kira-kira seperti inilah yang ingin aku sampaikan</em>):</p>
<p dir="rtl" align="center"><strong>بسم الله الرحمن الرخيم</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>إن الحمد لله , نحمده ونستعينه , ونستغفره , ونعوذ بالله من شرور أنفسنا , ومن سيئات أعمالنا , من يهده الله فلا مضل له , ومن يضلل فلا هادي له , وأشهد أن لاإله إلا الله وحده لاشريك له , وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم . </strong></p>
<p dir="rtl"><strong>{ يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون } </strong></p>
<p dir="rtl"><strong>{ يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تسألون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا } </strong></p>
<p dir="rtl"><strong>{ يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا , يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم , ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما }</strong></p>
<p>Anak-anakku..<em>,</em></p>
<p>Hari ini akan menjadi satu di antara hari-hari yang paling bersejarah di dalam kehidupan kalian berdua. Sebentar lagi kalian akan menjadi sepasang suami-isteri, yang darinya kelak akan lahir anak-anak yang sholeh dan sholehah, dan kalian akan menjadi seorang bapak dan seorang ibu, untuk kemudian menjadi seorang kakek dan seorang nenek, ……insya الله.</p>
<p><span id="more-519"></span>Rentang perjalanan hidup manusia yang begitu panjang … sesungguhnya singkat saja. Begitu pula…liku-liku dan pernik-pernik kerumitan hidup sesungguhnya jugalah sederhana. Kita semua.. diciptakan ALLAH <em>Subhaanahu wa ta’alaa</em> tidak lain untuk beribadah kepada NYA. Maka, jika kita semua berharap kelak dapat berjumpa dengan ALLAH <em>Subhaanahu wa ta’alaa</em> …dalam keadaan IA ridlo kepada kita, hendaklah kita jadikan segala tindakan kita semata-mata di dalam rangka mencari keridlo’an-NYA dan menyelaraskan diri kepada Sunnah Nabi-NYA Yang Mulia -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>-</p>
<p dir="rtl"><strong>فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.</strong></p>
<p>(<em>Maka barangsiapa merindukan akan perjumpaannya dengan robb-nya, hendaknya ia beramal dengan amalan yang sholeh, serta tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun di dalam peribadatahan kepada robb-nya</em>.)</p>
<p>Begitu pula pernikahan ini, ijab-qabulnya, adanya wali dan dua orang saksi, termasuk hadirnya kita semua memenuhi undangan ini…adalah ibadah, yang tidak luput dari keharusan untuk sesuai dengan syari’at ALLAH <em>Subhaanahu wa ta’alaa</em>.</p>
<p>Oleh karena itu…, <strong>kepada calon suami anakku</strong>…</p>
<p>Saya ingatkan, bahwa wanita itu dinikahi karena empat alasan, sebagaimana sabda Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>:</p>
<p dir="rtl"><strong>عن أبي هريره رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:<br />
تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك</strong></p>
<p>“<em>Wanita dinikahi karena empat alasan. Hartanya, keturunannya, kecantikannya,atau agamanya. Pilihlah karena agamanya, niscaya selamatlah engkau</em>.” (HR:Muslim)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka ambilah nanti putriku sebagai isteri sekaligus sebagai amanah yang kelak kamu dituntut bertanggung jawab atasnya. Dengannya dan bersamanya lah kamu beribadah kepada ALLAH <em>Subhaanahu wa ta’alaa</em>, di dalam suka…di dalam duka. Gaulilah ia secara baik, sesuai dengan yang diharuskan menurut syari’at ALLAH. Terimalah ia sepenuh hati, kelebihan dan kekurangannya, karena ALLAH <em>Subhaanahu wa ta’alaa</em> telah memerintahkan demikian:</p>
<p dir="rtl"><strong>وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا</strong></p>
<p>(<em>Dan gaulilah isteri-isterimu dengan cara yang ma’ruf. Maka seandainya kalian membenci mereka, karena boleh jadi ada sesuatu yang kalian tidak sukai dari mereka, sedangkan ALLAH menjadikan padanya banyak kebaikan</em>.) (An-Nisaa’:19)</p>
<p>Dan ingatlah pula wasiat Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>-:</p>
<p dir="rtl"><strong>إستوصوا بالنساء خيرا فإنهن عوان عندكم</strong></p>
<p>(<em>Pergaulilah isteri-isteri dengan baik. Karena sesungguhnya mereka itu mitra hidup kalian</em>)</p>
<p>Dan perlakuanmu terhadap isterimu ini menjadi cermin kadar keimananmu, sebagaimana Sabda Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>-;</p>
<p dir="rtl"><strong>أكمل المؤمن إيمانا أحسنهم خلقا و خياركم خياركم لنساءهم</strong> (الترمذي عن ابي هريرة)</p>
<p>(<em>Mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya</em>)</p>
<p>Dan kamu sebagai laki-laki adalah pemimpin di dalam rumah tangga.</p>
<p dir="rtl"><strong>الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ</strong></p>
<p>(<em>Lelaki itu pemimpin bagi wanita disebabkan ALLAH telah melebihkan yang satu dari yang lainnya dan disebabkan para lelaki yang memberi nafkah dengan hartanya</em>.) (An-Nisaa’: 34)</p>
<p>Maka agar kamu dapat memimpin rumah tanggamu, penuhilah syarat-syaratnya, berupa kemampuan untuk menafkahi, mengajari, dan mengayomi. Raihlah kewibawaan agar isterimu patuh di bawah pimpinanmu. Jadilah suami yang bertanggungjawab, arif dan lemah lembut , sehingga isterimu merasa hangat dan tentram di sisimu. Berusahalah sekuat tenaga menjadi teladan yang baik baginya, sehingga ia bangga bersuamikan kamu. Ya, inilah sa’atnya untuk membuktikan bahwa kamu laki-laki sejati, laki-laki yang bukan hanya lahirnya.</p>
<p>Kepada <strong>putriku</strong>…</p>
<p>Saya ingatkan kepadamu akan sabda Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- :</p>
<p dir="rtl"><strong>عن أبي هريرة؛ قال:- قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>إذا أتاكم من ترضون خلقه ودينه فزوجوه. إلا تفعلوا تكن فتنة في الأرض وفساد عريض</strong></p>
<p>“<em>Jika datang kepadamu (-wahai para orang tua anak gadis-) seorang pemuda yang kau sukai akhlaq dan agamanya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan menyebarnya kerusakan di muka bumi</em>.” (HR: Ibnu Majah)</p>
<p dir="rtl">
<p>Dan semoga -tentunya- calon suamimu datang dan diterima karena agama dan akhlaqnya, bukan karena yang lain. Maka hendaknya kau luruskan pula niatmu. Sambutlah dia sebagai suami sekaligus pemimpinmu. Jadikanlah perkawinanmu ini sebagai wasilah ibadahmu kepada ALLAH <em>Subhaanahu wa ta’alaa</em>. Camkanlah sabda Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>-:</p>
<p dir="rtl"><strong>لو كنت أمرا أحد ان يسجد لأحد لأمرت المرءة ان تسجد لزوجها</strong> (الترم1ي عن ابي هريرة)</p>
<p>(<em>Seandainya aku boleh memerintahkan manusia untuk sujud kepada sesamanya, sungguh sudah aku perintahkan sang isteri sujud kepada suaminya</em>.)</p>
<p>Karenanya sekali lagi saya nasihatkan , wahai putriku…</p>
<p>Terima dan sambutlah suamimu ini dengan sepenuh cinta dan ketaatan.</p>
<p><em>Layani ia dengan kehangatanmu…</em></p>
<p><em>Manjakan ia dengan kelincahan dan kecerdasanmu…</em></p>
<p><em>Bantulah ia dengan kesabaran dan doamu…</em></p>
<p><em>Hiburlah ia dengan nasihat-nasihatmu…</em></p>
<p><em>Bangkitkan ia dengan keceriaan dan kelembutanmu…</em></p>
<p><em>Tutuplah kekurangannya dengan mulianya akhlaqmu…</em></p>
<p>Manakala telah kamu lakukan itu semua, tak ada gelar yang lebih tepat disandangkan padamu selain<em> Al Mar’atush-Shalihah</em>, yaitu sebaik-baik perhiasan dunia. Sebagaimana Sabda Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>-:</p>
<p dir="rtl"><strong>الدنيا متاع وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة </strong>( مسلم)</p>
<p>(<em>Dunia tak lain adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah</em>.)</p>
<p>Inilah satu kebahagiaan hakiki -bukan khayali- yang diidam-idamkan oleh setiap wanita beriman. Maka bersyukurlah, sekali lagi bersyukurlah kamu untuk semua itu, karena tidak semua wanita memperoleh kesempatan sedemikian berharga. Kesempatan menjadi seorang isteri, menjadi seorang ibu. Terlebih lagi, adanya kesempatan, diundang masuk ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki. Yang demikian ini mungkin bagimu selagi kamu melaksanakan sholat wajib lima waktu -cukup yang lima waktu-, puasa -juga cukup yang wajib- di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan -termasuk menutup aurat- , dan ta’at kepada suami. Cukup, cukup itu. Sebagaimana sabda Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>-:</p>
<p dir="rtl"><strong>إذا صلت المرأة خمسها وصامت شهرها وحفظت فرجها وأطاعت زوجها</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>قيل لها: ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت </strong>(أحمد عن عبدالرحمن بن عوف)</p>
<p>(<em>Jika seorang isteri telah sholat yang lima, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan ta’at kepada suaminya. Dikatakan kapadanya: Silahkan masuk ke dalam Surga dari pintu mana saja yang engkau mau</em>.)</p>
<p>Anak-anakku…,</p>
<p>Melalui rangkaian ayat-ayat suci Al Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi Yang Mulia, kami semua yang hadir di sini mengantarkan kalian berdua memasuki gerbang kehidupan yang baru, bersiap-siap meninggalkan ruang tunggu, dan mengakhiri masa penantian kalian yang lama. Kami semua hanya dapat mengantar kalian hingga di dermaga. Untuk selanjutnya, bahtera rumah-tangga kalian akan mengarungi samudra kehidupan, yang tentunya tak sepi dari ombak, bahkan mungkin badai.</p>
<p>Karena itu, jangan tinggalkan jalan ketaqwaan. Karena hanya dengan ketaqwaan saja ALLAH <em>Subhaanahu wa ta’ala</em>a akan mudahkan segala urusan kalian, mengeluarkan kalian dari kesulitan-kesulitan, bahkan mengaruniai kalian rizki.</p>
<p dir="rtl"><strong>وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا <a name="BM65_3"></a>* وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا</strong></p>
<p>(<em>Dan barang siapa yang bertaqwa kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan berikan bagi nya jalan keluar dan mengaruniai rizki dari sisi yang tak terduga</em>.)</p>
<p>(<em>Dan barang siapa yang bertaqwa kepada ALLAH</em><strong>, </strong><em>niscaya ALLAH akan mudahkan urusannya.)</em></p>
<p>Bersyukurlah kalian berdua akan ni’mat ini semua. ALLAH <em>Subhaanahu wa ta’alaa</em> telah mengarunia kalian separuh dari agama ini, ALLAH <em>Subhaanahu wa ta’alaa</em> telah mengarunia kalian kesempatan untuk menjalankan syari’at-NYA yang mulia, ALLAH <em>Subhaanahu wa ta’alaa</em> juga telah mengaruniai kalian kesempatan untuk mencintai dan dicintai dengan jalan yang suci dan terhormat.</p>
<p>Ketahuilah, bahwa pernikahan ini menyebabkan kalian harus lebih berbagi. Orang tua kalian bertambah, saudara kalian bertambah, bahkan sahabat-sahabat kalian pun bertambah, yang kesemua itu tentu memperpanjang tali silaturahmi, memperlebar tempat berpijak, memperluas pandangan, dan memperjauh daya pendengaran. Bukan saja semakin banyak yang perlu kalian atur dan perhatikan, sebaliknya semakin banyak pula yang akan ikut mengatur dan memperhatikan kalian. Maka, barang siapa yang tidak kokoh sebagai pribadi dia akan semakin gamang menghadapi kehidupannya yang baru.</p>
<p>Ketahuilah, bahwa anak-anak yang sholeh dan sholehah yang kalian idam-idamkan itu sulit lahir dan tumbuh kecuali di dalam rumah tangga yang sakinah penuh cinta dan kasih sayang. Dan tentunya tak akan tercipta rumah-tangga yang sakinah, kecuali dibangun oleh suami yang sholeh dan isteri yang sholehah.</p>
<p>Akan tetapi, wahai anak-anakku, jangan takut menatap masa depan dan memikul tanggung jawab ini semua. Jangan bersedih dan berkecil hati jika kalian menganggap bekal yang kalian miliki sekarang ini masih sangat kurang. ALLAH <em>Subhaanahu wa ta’alaa</em> berfirman:</p>
<p dir="rtl"><strong>وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</strong></p>
<p>(Artinya: “<em>Dan janganlah berkecil hati juga jangan bersedih. Padahal kalian adalah orang-orang yang mulia seandainya sungguh-sungguh beriman</em>.”) (Ali Imran: 139)</p>
<p>Ya, selama masih ada iman di dalam dada segalanya akan menjadi mudah bagi kalian. Bukankah dengan pernikahan ini kalian bisa saling tolong-menolong di dalam kebajikan dan taqwa. Bukankah dengan pernikahan ini kalian bisa saling menutupi kelemahan dan kekurangan masing-masing. Bersungguh-sungguhlah untuk itu, untuk meraih segala kebaikan yang ALLAH <em>Subhaanahu wa ta’alaa </em>sediakan melalui pernikahan ini. Jangan lupa untuk senantiasa memohon pertolongan kepada ALLAH. kemudian jangan merasa tak mampu atau pesimis. Jangan, jangan kalian awali kehidupan rumah tangga ini dengan perasaan lemah !</p>
<p dir="rtl"><strong>احرص على ما ينفعك. واستعن بالله ولا تعجز</strong></p>
<p>(<em>Bersungguh-sungguhlah kepada yang bermanfa’at bagimu, mohonlah pertolongan kepada ALLAH, dan jangan merasa lemah!</em>) (HR: Ibnu Majah)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terakhir, ingatlah bahwa nikah merupakan Sunnah Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>-, sebagaimana sabdanya:</p>
<p dir="rtl"><strong>النكاح من سنتي فمن رغب عن سنتي فليس مني</strong></p>
<p>(<em>Nikah itu merupakan bagian dari Sunnahku. Maka barang siapa berpaling dari Sunnahku, ia bukanlah bagian dari umatku</em>.)</p>
<p>Maka janganlah justru melalui pernikahan ini atau setelah aqad ini kalian justru meninggalkan Sunnah untuk kemudian bergelimang di dalam berbagai bid’ah dan kema’shiyatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kepada besanku…</p>
<p>Terimalah masing-masing mereka sebagai tambahan anak bagi kita. Ma’lumilah kekurangan-kekurangannya, karena mereka memang masih muda. Bimbinglah mereka, karena inilah saatnya mereka memasuki kehidupan yang sesungguhnya.</p>
<p>Wajar, sebagaimana seorang anak bayi yang sedang belajar berdiri dan berjalan, tentu pernah mengalami jatuh untuk kemudian bangkit dan mencoba kembali. Maka bantulah mereka sampai benar-benar kokoh untuk berdiri dan berjalan sendiri.</p>
<p>Bantu dan bimbing mereka, tetapi jangan mengatur. Biarkan.., Karena sepenuhnya diri mereka dan keturunan yang kelak lahir dari perkawinan mereka adalah tanggung-jawab mereka sendiri di hadapan ALLAH <em>Subhaanahu wa ta’alaa</em>. Hargailah harapan dan cita-cita yang mereka bangun di atas ilmu yang telah sampai pada mereka.</p>
<p>Keterlibatan kita yang terlalu jauh dan tidak pada tempatnya di dalam persoalan rumah tangga mereka bukannya akan membantu. Bahkan sebaliknya, membuat mereka tak akan pernah kokoh. Sementara mereka dituntut untuk menjadi sebenar-benar bapak dan sebenar-benar ibu di hadapan…dan bagi anak-anak mereka sendiri.</p>
<p>Ketahuilah, bahwa bukan mereka saja yang sedang memasuki kehidupannya yang baru, sebagai suami isteri. Kita pun, para orang tua, sedang memasuki kehidupan kita yang baru, yakni kehidupan calon seorang kakek atau nenek – insya الله. Maka hendaknya umur dan pengalaman ini membuat kita,…para orang tua, menjadi lebih arif dan sabar, bukannya semakin pandir dan dikuasai perasaan. Pengalaman hidup kita memang bisa jadi pelajaran, tetapi belum tentu harus jadi acuan bagi mereka.</p>
<p>Jika kelak -dari pernikahan ini- lahir cucu-cucu bagi kita. Sayangilah mereka tanpa harus melecehkan dan menjatuhkan wibawa orang tuanya. Berapa banyak cerita di mana kakek atau nenek merebut superioritas ayah dan ibu. Sehingga anak-anak lebih ta’at kepada kakek atau neneknya ketimbang kepada kedua orang tuanya. Sungguh, akankah kelak cucu-cucu kita menjadi anak-anak yang ta’at kepada orang tuanya atau tidak, sedikit banyak dipengaruhi oleh cara kita memanjakan mereka.</p>
<p>Kepada semua, baik yang pernah mengalami peristiwa semacam ini, maupun yang sedang menanti-nanti gilirannya, marilah kita do’akan mereka dengan do’a yang telah diajarkan oleh Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>-:</p>
<p dir="rtl"><strong>بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما في خير</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>فأعتبروا يا أولي الأبصار</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لاإله إلاأنت أستغفرك وأتوب إليك</strong></p>
<p>Sumber : <a href="http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/4jendela-anak/nasihat-perkawinan-untuk-putriku/" target="_blank">http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/4jendela-anak/nasihat-perkawinan-untuk-putriku/</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-islam/'>Artikel Islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-motivasi-2/'>Artikel Motivasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kajian-islam/'>Kajian Islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/keluarga/'>Keluarga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/artikel-nasehat/'>artikel nasehat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/dakwah/'>dakwah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kakek/'>kakek</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kehidupan-2/'>kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/nasihat/'>nasihat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/nenek/'>nenek</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/nikmat/'>nikmat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pernik/'>pernik</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pernikahan/'>pernikahan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/putri/'>putri</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/sholeh/'>sholeh</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/suami-isteri/'>suami isteri</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/tanggungjawab/'>tanggungjawab</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/umur/'>umur</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/zainal-abidin/'>zainal abidin</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/519/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=519&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2012/02/02/nasihat-perkawinan-untuk-putriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>17 Keutamaan Si Fakir</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2012/01/18/17-keutamaan-si-fakir/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2012/01/18/17-keutamaan-si-fakir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 02:26:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[definisi fakir]]></category>
		<category><![CDATA[fakir]]></category>
		<category><![CDATA[fakir miskin]]></category>
		<category><![CDATA[faqir]]></category>
		<category><![CDATA[keistimewaan islam]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan fakir]]></category>
		<category><![CDATA[miskin]]></category>
		<category><![CDATA[penduduk surga]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian fakir]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[telaga]]></category>
		<category><![CDATA[wajib zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[Keistimewaan Islam Buat si Fakir Kemiskinan dan kekayaan hanyalah ujian dari Allah buat hambaNya. Tidak semua orang yang diluaskan rezekinya merupakan tanda ia dimuliakan, pun tidak semua orang yang disempitkan rezekinya berarti ia dihinakan (Al_MawaddahVol 46 1433H) Kaum Faqir miskin &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2012/01/18/17-keutamaan-si-fakir/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=516&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Keistimewaan Islam Buat si Fakir</strong></p>
<blockquote><p>Kemiskinan dan kekayaan hanyalah ujian dari Allah buat hambaNya. Tidak semua orang yang diluaskan rezekinya merupakan tanda ia dimuliakan, pun tidak semua orang yang disempitkan rezekinya berarti ia dihinakan (Al_MawaddahVol 46 1433H)</p></blockquote>
<p><strong>Kaum Faqir miskin memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang berada, diantaranya: </strong></p>
<p><span id="more-516"></span>1. Faqir miskin adalah mayoritas penduduk surga. Dari Imran bin Husain, Rasulullah Shalallohu wa&#8217;ala alahi wasalam bersabda &#8220;Saya melihat surga dan mayoritas penghuninya adalah orang-orang faqir.&#8221; (HR Al Bukhari:6547)</p>
<p>2. Mereka orang-orang pertama yang memasuki surga. Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallohu wa&#8217;ala alahi wasalam bersabda &#8220;Fuqara kaum muslimin lebih dahulu masuk surga dari orang-orang kaya setengah hari, yaitu 500 tahun &#8221; (Shahih Sunan at-Tirmidzi:2472)</p>
<p>3. Mereka rombongan yang pertama kali menuju al-Haudh (Telaga Nabi, Rasulullah Shalallohu wa&#8217;ala alahi wasalam bersabda &#8221; Orang-orang yang pertama kali mendatangi (telaga) adalah Fuqara Muhajirin yang rambutnya kusut, yang pakainnya lusuh. Jika melamar wanita-wanita kaya, ia akan ditolak dan jika meminta izin untuk masuk maka ia tidak akan diizinkan.&#8221; (HR. at-Thabrani 2/99,100, as-Shahihah:1082)</p>
<p>4. Faqir miskin orang-orang yang pertama kali melewati as-Shirath (jembatan di atas neraka Jahanam). Dari Tsauban bahwa seorang lelaki Yahudi pernah bertanya kepada Nabi: &#8220;Di manakah manusia tak kala hari digantikannya bumi dengan bumi dan langit yang baru (QS. Ibrahim ayat 48)?&#8221; Beliau menjawab:&#8221; Mereka dalam kegelapan sebelum jembatan.&#8221; Ia bertanya lagi &#8220;Siapakah orang-orang yang pertama kali melewati jembatan?&#8221; Beliau menjawab, Fuqaranya kaum Muhajirin… (HR MUslim :135)</p>
<p>5. Kebanyakan pengikut para Rasul adalah Faqir miskin. Ini dibuktikan dalam firman-Nya : « Mereka berkata : &#8220;Apakah kami akan beriman kepadamu, Padahal orang-orang yang mengikuti kamu adalah orang-orang yang hina?&#8221; (QS : as-Syu&#8217;ara[26]:111)</p>
<p>Hiraklius Kaisar Romawi bertanya kepada Abu Sufyan tentang Nabi Muhammad, &#8220;Saya menanyakan kepadamu, apakah yang mengikutinya para pembesar atau orang-orang lemah?Engkau jawab bahwa yang mengikutinya adalah orang-orang lemah dan memang mereka pengikut para Rasul.&#8221; HR Bukhari:7</p>
<p>6. Jika bersumpah dengan nama Allah akan dikabulkan. Dari Haritsah bin Wahb al –Khuza&#8217;i ia mendengar Rasulullah Shalallohu wa&#8217;ala alahi wasalam bersabda: &#8220;Maukah kalian kuberitahukan tentang penduduk surga? Yaitu semua orang yang lemah lagi diremehkan (karena keadaannya di dunia). Jika mereka bersumpah dengan nama Allah maka akan dikabulkan.&#8221; (HR al-Bukhari:4918)</p>
<p>7. Rasulullah Shalallohu wa&#8217;ala alahi wasalam tidak khawatir umatnya mengalami kefaqiran, justru beliau khawatir terhadap orang-orang kaya. Dari Abu Ubaidah Rasulullah Shalallohu wa&#8217;ala alahi wasalam bersabda: &#8220;Demi Allah, tidaklah kefaqirn itu aku takutkan bagi kalian, tetapi aku khawatir dunia ini dilapangkan bagi kalian layaknya telah dilapangkan bagi orang-orang sebelum kalian, lalu kalian akan berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka terdahulu, lalu ia akan melalaikan kalian sebagaimana telah melalaikan mereka.&#8221; (HR. al-Bukhari:6425)</p>
<p>8. Pertolongan dan rezeki dari Allah disebabkan dengan doa orang-orang yang lemah, shalat dan keikhlasan mereka. Dari Sa&#8217;d, Rasulullah Shalallohu wa&#8217;ala alahi wasalam bersabda: &#8220;Allah hanya menolong umat ini karena orang-orang lemah mereka dengan doa, shalat dan keikhlasan mereka.&#8221; (HR.an-Nasa&#8217;I 2/65 as-Shahihah:779)</p>
<p>9. Mencintai kaum miskin dapat mendorong keikhlasan, menghilangkan kesombongan dan melembutkan hati. Seseorang pernah mengadukan tentang kerasnya hatinya kepada Rasulullah Shalallohu wa&#8217;ala alahi wasalam, maka beliau bersabda: &#8220;Jika kamu ingin melembutkan hatimu, berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.&#8221; (HR. Ahmad 2/263, as-Shahihah:854),</p>
<p>10.Enggan memberi makan kaum miskin merupakan salah satu sifat dari penduduk neraka. (Seperti dijelaskan dalam surat al-Haqqah ayat 34)</p>
<p>11.Disegerakan siksaan bagi orang yang menghalangi memberikan kaum miskin. Dikisahkan dalam surat al-Qalam ayat 17-27 tentang pemilik kebun yang berniat menghalangi memberikan sebagian panennya kepada orang-orang miskin, lalu Allah membuat tanamannya hancur pada malam hari.</p>
<p>12.Memberi makan di hari kelaparan, termasuk sebab mendapat ampunan. Baik diberikan kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat atau kepada orang yang sangat faqir. Allah menyebut orang ini dengan golongan kanan. (QS. Al-Balad ayat 18)</p>
<p>13.Islam menyebut kaum miskin sebagai salah satu pilihan dalam kafarat puasa (QS. Al-Baqarah [2]:184),(QS. Al-Mujadilah[58]:4) dan sumpah. (QS.al-Ma’idah[5]:89)</p>
<p>14.Kaum miskin yang menghadiri pembagian warisan berhak mendapat bagian (QS. An-Nisa[4]:8)</p>
<p>15.Dalam pemberian nafkah, kaum miskin diutamakan setelah kedua orang tua, dan kerabat dekat (QS.al-Baqarah [2]:215)</p>
<p>16.Kaum miskin adalah salah satu yang berhak menerima harta Ghanimah (rampasan perang) (QS. Al-Anfal[8]:41), zakat (QS.at-Taubah[9]:60) dan Fai. (QS. Al-Hasyr[59]:7)</p>
<p>17.Nabi berdoa agar dihidupkan dalam keadaan tawadhu seperti kebanyakan orang miskin. Beliau berdia “ Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikan aku dalam keadaan miskin dan bangkitkan aku bersama kelompok orang-orang miskin.”</p>
<p>Al-Baihaki berkata: Beliau Shalallohu wa’ala alahi wasalam(dalm hadits ini) tidaklah meminta kemiskinan yang bermakna miskin papa, namun yang dimaksud adalah merendahkan diri dan tawadhu.” (HR at-Tirmidzi:2353 dan dihasanlighairih-kan oleh Syaikh al-Albani dalm Irw’ul Ghal 13/358-363)</p>
<p>Sumber al Mawaddah Vol 46 Muharram1433H, hal 23 dan 24</p>
<p><img src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/402786_2606998413073_1198314475_32126783_1942952865_n.jpg" alt="" /></p>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-islam/'>Artikel Islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-motivasi-2/'>Artikel Motivasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kajian-islam/'>Kajian Islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/definisi-fakir/'>definisi fakir</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/fakir/'>fakir</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/fakir-miskin/'>fakir miskin</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/faqir/'>faqir</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/keistimewaan-islam/'>keistimewaan islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/keutamaan-fakir/'>keutamaan fakir</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/miskin/'>miskin</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/penduduk-surga/'>penduduk surga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pengertian-fakir/'>pengertian fakir</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/rasulullah/'>rasulullah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/surga/'>surga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/telaga/'>telaga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/wajib-zakat/'>wajib zakat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/zakat/'>zakat</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/516/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=516&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2012/01/18/17-keutamaan-si-fakir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/402786_2606998413073_1198314475_32126783_1942952865_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>ANAK CACAT ITU BERNAMA SALIM</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/12/16/anak-cacat-itu-bernama-salim/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/12/16/anak-cacat-itu-bernama-salim/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 10:38:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[aborsi]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Belum]]></category>
		<category><![CDATA[Bukan]]></category>
		<category><![CDATA[cacat aborsi]]></category>
		<category><![CDATA[cacat permanen]]></category>
		<category><![CDATA[Fianna Fáil]]></category>
		<category><![CDATA[kisah anak cacat]]></category>
		<category><![CDATA[kisahsalim]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Suci Allah]]></category>
		<category><![CDATA[ridha]]></category>
		<category><![CDATA[salim]]></category>
		<category><![CDATA[salim yang cacat]]></category>
		<category><![CDATA[sebab cacat]]></category>
		<category><![CDATA[Shinee]]></category>
		<category><![CDATA[suami istri]]></category>
		<category><![CDATA[tabah]]></category>
		<category><![CDATA[Umar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[Belum sampai 30 tahun usiaku ketika istriku melahirkan anak pertamaku. Masih aku ingat malam itu, dimana aku menghabiskan malam bersama dengan teman-temanku hingga akhir malam, dimana waktu semalaman aku isi dengan ghibah dan komentar-komentar yang haram. Akulah yang paling banyak &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/12/16/anak-cacat-itu-bernama-salim/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=509&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/386104_1671176276590_1752889223_792705_1624270886_n.jpg" alt="" /></p>
<p>Belum sampai 30 tahun usiaku ketika istriku melahirkan anak pertamaku. Masih aku ingat malam itu, dimana aku menghabiskan malam bersama dengan teman-temanku hingga akhir malam, dimana waktu semalaman aku isi dengan ghibah dan komentar-komentar yang haram. Akulah yang paling banyak membuat mereka tertawa, membicarakan aib manusia, dan mereka pun tertawa.</p>
<p><span id="more-509"></span>Aku ingat malam itu, dimana aku membuat mereka banyak tertawa. Aku punya bakat luar biasa untuk membuat mereka tertawa. Aku bisa mengubah nada suara hingga menyeruapi orang yang aku tertawakan. Aku menertawakan ini dan itu, hingga tidak ada seorangpun yang selamat dari tertawaanku walaupun ia adalah para sahabatku. Hingga akhirnya sebagian dari mereka menjauhiku agar selamat dari lisanku.</p>
<p>Aku ingat pada malam itu aku mengejek seorang yang buta, yang aku melihatnya sedang mengemis di pasar. Lebih buruk lagi, aku meletakkan kakiku di depannya untuk mendorongnya hingga ia goyah dan jatuh, hingga dia berpaling dengan kepalanya dan tidak mengetahui apa yang ia katakan. Leluconku menyebabkan orang-orang yang ada di pasar tertawa.</p>
<p>Aku kembali ke rumah dalam keadaan terlambat seperti biasa. Aku mendapati istriku yang sedang menungguku tengah bersedih. Dia bertanya padaku, darimana saja aku? Aku menjawabnya dengan sinis, &#8220;Aku lelah.&#8221; Kelelahan tampak jelas diwajahnya. Ia berkata dengan menangis tersedu, &#8220;Aku lelah sekali, tampaknya waktu persalinanku sudah dekat.&#8221;</p>
<p>Dalam diamnya, air matanya menetes di pipinya. Aku merasa bahwa aku telah mengabaikan istriku dalam hal ini. Seharusnya aku memperhatikannya dan mengurangi begadangku, lebih khusus di bulan kesembilan dari kehamilannya ini. Akhirnya, aku membawanya ke rumah sakit dengan segera dan aku masuk ke ruang bersalin. Aku seakan merasakan sakit yang sangat beberapa saat. Aku menunggu persalinan istriku dengan sabar, tapi ternyata sulit sekali proses persalinannya. Aku menunggu lama sekali hingga aku kelelahan. Maka aku pulang ke rumah dengan meninggalkan nomor HP ku di rumah sakit dengan harapan mereka mengabariku.</p>
<p>Setelah beberapa saat, mereka menghubungiku dengan kelahiran Salim. Maka aku bergegas ke rumah sakit. Pertama kali mereka melihatku, aku bertanya tentang kamarnya. Tetapi mereka memintaku untuk menemui dokter yang bertanggung jawab dalam proses persalinan istriku. Aku berteriak kepada mereka: &#8220;Dokter apa? Aku hanya perlu melihat anakku.&#8221; Akan tetapi mereka mengatakan: &#8220;Anda harus menemui dokter terlebih dahulu.&#8221;</p>
<p>Akhirnya aku menemui dokter tersebut. Lantas dia berbicara kepadaku tentang musibah dan ridha terhadap takdir. Kemudian ia berkata: &#8220;Mata kedua anak anda buruk, dan sepertinya dia akan kehilangan penglihatannya!&#8221;</p>
<p>Aku menundukkan kepala dan berusaha mengendalikan ucapanku. Aku jadi teringat dengan pengemis buta yang aku dorong di pasar dan menertawakannya di hadapan manusia.</p>
<p>Maha Suci Allah, sebagaimana engkau mengutuk, maka engkau akan dikutuk. Aku sangat sedih dan tidak mengetahui apa yang aku katakan. Kemudian aku ingat istri dan anakku. Aku berterima kasih kepada dokter atas kelemah lembutannya, lantas aku berlalu dan tidak melihat istriku. Adapun istriku maka dia tidak bersedih, dia ridha dan beriman terhadap takdir Allah. Seringkali ia menasehatiku untuk menjaga diri dari menertawakan orang lain, dan ia juga senantiasa mengulang-ulanginya agar aku tidak ghibah.</p>
<p>Kami keluar dari rumah sakit bersama Salim. Sungguh, aku tidak banyak memperhatikannya. Aku menganggapnya tidak ada di rumah. Ketika tangisannya sangat keras, aku lari ke lorong untuk tidur di sana. Sedangkan istriku sangat memperhatikan dan mencintainya. Sebenarnya aku tidak membencinya, tetapi masih belum bisa mencintainya.</p>
<p>Salim pun semakin besar. Mulailah dia merangkak, akan tetapi cara merangkaknya aneh. Umurnya hampir setahun, dan mulailah dia berjalan. Maka semakin jelas jika dia pincang. Maka beban yang berada di pundakku semakin besar. Setelah itu istriku melahirkan anak yang normal setelahnya, Umar dan Khalid. Berlalulah beberapa tahun dan Salim semakin besar, dan tumbuh besar pula saudara-saudaranya. Aku sendiri tidak seberapa suka duduk-duduk di rumah, seringkali aku menghabiskan waktu bersama dengan teman-temanku.</p>
<p>Istriku tidak pernah putus asa untuk senantiasa menasehatiku. Dia senantiasa mendoakanku agar mendapat hidayah. Dia tidak pernah marah terhadap perbuatanku yang gegabah. Akan tetapi, ia sangat bersedih jika melihatku banyak memperhatikan saudara-saudara Salim, sementara kepada Salim aku meremehkannya. Salim semakin besar dan harapanku kepadanya juga semakin besar. Aku tidak melarang ketika istriku memintaku agar mendaftarkan Salim di salah satu sekolah khusus penyandang cacat. Tidak terasa aku telah melalui beberapa tahun hanya aku gunakan untuk bekerja, tidur, makan dan begadang dengan teman-temanku.</p>
<p>Pada hari Jumat, aku bangun pada pukul 11.00 waktu zhuhur. Dan ini masih terlalu pagi bagiku, dimana ketika itu aku diundang untuk menghadiri suatu perjamuan. Aku berpakaian, mengenakan wewangian dan hendak keluar. Aku berjalan melalui lorong rumah, namun wajah Salim menghentikan langkahku. Dia menangis dengan meluap-luap!</p>
<p>Ini adalah kali pertama aku memperhatikan Salim semenjak dia masih kecil. Telah berlalu 10 tahun, tetapi aku tidak pernah memperhatikannya. Aku mencoba untuk pura-pura tidak tahu, tetapi tidak bisa. Aku mendengarkan suaranya yang sedang memanggil ibunya, sementara aku sendiri berada di dalam kamar. Aku melihatnya dan berusaha mendekat kepadanya. Aku berkata: &#8220;Salim, mengapa engkau menangis?&#8221; Ketika mendengar suaraku, ia berhenti menangis. Maka ketika ia merasa aku telah berada di dekatnya, dia mulai merasakan apa yang ada di sekitarnya dengan kedua tangannya yang kecil. Dengan apakah dia melihat? Aku merasa bahwa dia berusaha untuk menjauh dariku!! Seolah-olah ia berkata: &#8220;Sekarang engkau telah merasakan keberadaanku. Dimana saja engkau selama 10 tahun yang lalu?!&#8221; Aku mengikutinya, ia masuk ke dalam kamarnya. Ia menolak memberitahukan kepadaku sebab dari tangisannya. Maka aku mencoba untuk berlemah lembut kepadanya. Mulailah Salim menjelaskan sebab tangisannya. Aku mendengar ucapannya, dan aku mulai bangkit.</p>
<p>Apakah kalian tahu apa yang menjadi sebabnya!! Saudaranya, Umar, terlambat, terlambat mengantarkannya pergi ke masjid, sebab ketika itu adalah shalat jumat, dia khawatir tidak mendapatkan shaf pertama. Ia memanggil Umar, ia memanggil ibunya, akan tetapi tidak ada yang menjawabnya, akhirnya ia menangis. Aku melihat airmata yang mengalir dari kedua matanya yang tertutup. Aku belum bisa memahami kata-katanya yang lain. Aku meletakkan tanganku kepadanya dan berkata: &#8220;Apakah untuk itu engkau menangis, wahai Salim&#8230;?!&#8221;</p>
<p>Dia berkata, &#8220;Ya&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku telah lupa dengan teman-temanku, aku telah lupa dengan undangan perjamuan.</p>
<p>Aku berkata: &#8220;Salim, jangan bersedih! Tahukah engkau siapakah yang akan berangkat denganmu pada hari ini ke Masjid?&#8221;</p>
<p>Ia berkata: &#8220;Dengan Umar tentunya, tetapi ia selalu terlambat.&#8221;</p>
<p>Aku berkata: &#8220;Bukan, tetapi aku yang akan pergi bersamamu.&#8221;</p>
<p>Salim terkejut, ia seakan tidak percaya. Dia mengira aku mengolok-oloknya. Dia meneteskan airmata kemudian menangis. Aku mengusap airmatnya dengan tanganku dan aku pegang tangannya. Aku ingin mengantarkannya dengan mobil, tetapi ia menolak seraya mengatakan: &#8220;Masjidnya dekat, aku hanya ingin berjalan menuju masjid!&#8221;</p>
<p>Aku tidak ingat kapan kali terakhir aku masuk ke dalam masjid. Akan tetapi ini adalah kali pertama aku merasakan adanya takut dan penyesalan atas apa yang telah aku lalaikan selama beberapa tahun belakangan. Masjid itu dipenuhi dengan orang-orang yang shalat, kecuali aku mendapati Salim duduk di shaf pertama. Kami mendengarkan khutbah jumat bersama, dan dia shalat di sampingku. Bahkan, sebenarnya akulah yang shalat di sampingnya.</p>
<p>Setelah shalat, Salim meminta kepadaku sebuah mushaf. Aku merasa aneh, bagaimana dia akan membacanya padahal ia buta? Aku hampir saja mengabaikan permintaannya dan berpura-pura tidak mengetahui permintaannya. Akan tetapi aku takut jika aku melukai perasaannya. Akhirnya aku mengambilkan sebuah mushaf. Aku membuka mushaf dan memulainya dari surat al Kahfi. Terkadang aku membalik-balik lembaran, terkadang pula aku melihat daftar isinya. Maka ia mengambil mushaf itu dari tanganku kemudian meletakkannya. Aku berkata: &#8220;Ya Allah, bagaimana aku mendapatkan surat al kahfi, aku mencari-carinya hingga mendapatkannya di hadapannya!!&#8221;</p>
<p>Mulailah ia membaca surat itu dalam keadaan kedua matanya tertutup. Ya Allah&#8230;!! Ia telah hafal surat al Kahfi secara keseluruhan&#8230;!</p>
<p>Aku malu pada diriku sendiri. Aku memegang mushaf, namun aku rasakan seluruh anggota badanku menggigil. Aku baca dan aku baca. Aku berdoa kepada Allah agar mengampuniku dan memberi petunjuk kepadaku. Aku tidak kuasa, maka mulailah aku menangis seperti anak kecil. Manusia masih berada di masjid untuk mendirikan shalat sunnah. Aku malu pada mereka, maka mulailah aku menyembunyikan tangisanku. Maka berubahlah tangisan itu menjadi isakan.</p>
<p>Aku tidak merasakan apa-apa ketika itu kecuali melalui tangan kecil yang meraba wajahku dan mengusap kedua airmataku. Dialah Salim!! Aku dekap dia ke dadaku dan aku melihatnya. Aku berkata kepada diriku sendiri, &#8220;Engkau tidaklah buta wahai anakku, akan tetapi akulah yang buta, ketika aku bersyair di belakang orang fasiq yang menyeretku ke dalam api neraka.&#8221;</p>
<p>Kami kembali ke rumah. Istriku sangat gelisah terhadap Salim. Namun seketika itu juga kegelisahannya berubah menjadi airmata kebahagiaan ketika ia mengetahui bahwa aku telah shalat jumat bersama Salim.</p>
<p>Sejak saat itu, aku tidak pernah ketinggalan untuk mendirikan shalat jamaah di masjid. Aku telah meninggalkan teman-teman yang buruk. Sekarang aku telah mendapatkan banyak teman yang aku kenal di masjid. Aku merasakan nikmatnya iman bersama mereka. Aku mengetahui dari mereka banyak hal yang dilalaikan oleh dunia. Aku tidak pernah ketinggalan mendatangi kelompok-kelompok pengajian atau shalat witir. Aku telah mengkhatamkan al Quran beberapa kali dalam sebulan. Lisanku telah basah dengan dzikir agar Allah mengampuni dosa-dosaku berupa ghibah dan menertawakan manusia. Aku merasa lebih dekat dengan keluargaku. Hilang sudah ketakutan dan belas kasihan yang selama ini ada di mata istriku. Senyuman tidak pernah pergi menjauhi wajah anakku, Salim. Siapa yang melihatnya akan mengira bahwa dia adalah seorang malaikat dunia beserta isinya. Aku banyak memuji Allah atas segala nikmat-Nya.</p>
<p>Suatu hari, teman-temanku yang shalih menetapkan diri melakukan safar untuk berdakwah. Aku ragu-ragu untuk pergi. Aku melakukan istikharah dan bermusyawarah dengan istri. Aku merasa dia akan menolak keinginanku. Akan tetapi ternyata sebaliknya, ia menyetujui keinginanku! Aku sangat bahagia, bahkan ia memotivasiku. Dia telah melihat masa laluku, dimana aku melakukan safar tanpa musyawarah dengannya sebagai bentuk kefasiqan dan perbuatan jahat.</p>
<p>Aku menghadap ke arah Salim. Aku mengabarinya jika aku hendak melakukan safar. Maka dia memegangku dengan kedua tangannya yang masih kecil sebagai ungkapan selamat jalan.</p>
<p>Aku telah meninggalkan rumahku lebih dari satu bulan. Selama itu, aku masih senantiasa menghubungi istriku dan juga berbicara kepada anak-anakku selama ada kesempatan. Aku sangat rindu kepada mereka. Ah, betapa rindunya aku kepada Salim. Aku sangat ingin mendengarkan suaranya. Dialah satu-satunya yang belum berbicara denganku semenjak aku melakukan safar. Bisa jadi karena dia berada di sekolah, bisa juga dia berada di masjid ketika aku menghubungi mereka.</p>
<p>Setiap kali aku berbicara dengan istriku perihal kerinduanku padanya (Salim), maka ia tertawa suka cita dan bahagia. Kecuali kali terakhir aku meneleponnya, aku tidak mendengar tawanya seperti biasa, suaranya berubah.</p>
<p>Aku berkata kepadanya: &#8220;Sampaikan salamku kepada Salim.&#8221; Istriku menjawab: &#8220;Insya Allah&#8230;!&#8221; Kemudian ia terdiam.</p>
<p>Terakhir, aku pun kembali ke rumah. Aku ketuk pintu. Aku berangan-angan jika Salim yang akan membukakan pintu itu. Akan tetapi, aku mendapati anakku Khalid yang usianya belum sampai 4 tahun membukakan pintu. Aku gendong dia, dan dia berteriak-teriak: &#8220;Baba&#8230;baba&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku tidak tahu kenapa dadaku berdebar ketika memasuki rumah.</p>
<p>Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.</p>
<p>Istriku menyambutku. Wajahnya mulai berubah, seolah-olah kebahagiaannya dibuat-buat.</p>
<p>Aku perhatikan ia baik-baik kemudian aku bertanya: &#8220;Ada apa denganmu?&#8221;</p>
<p>Ia berkata: &#8220;Tidak apa-apa.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba aku teringat Salim, maka aku berkata: &#8220;Dimana Salim.&#8221;</p>
<p>Istriku menundukkan wajahnya dan tidak menjawab. Airmata yang masih hangat menetes di pipinya.</p>
<p>Aku berteriak, &#8220;Salim&#8230;! Di mana Salim?&#8221;</p>
<p>Aku mendengar suara anakku Khalid yang hanya bisa mengatakan: &#8220;Baba&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Salim telah melihat surga,&#8221; kata istriku.</p>
<p>Istriku tidak kuasa dengan situasi ketika itu. Ia hendak menangis, hampir saja ia pingsan. Maka kemudian aku keluar dari kamar.</p>
<p>Aku tahu setelah itu, bahwa Salim terserang panas yang sangat tinggi beberapa hari sebelum kedatanganku. Istriku telah membawanya ke rumah sakit, ketika tiba disana maka ia menghembuskan nafas terakhir. Ruhnya telah meninggalkan jasadnya.</p>
<p>Aku mengira, anda semua wahai para pembaca akan menangis, dan air mata anda akan mengalir sebagaimana air mata kami juga mengalir. Anda akan tersentuh sebagaimana kami juga tersentuh. Aku berharap Anda semua tidak lupa untuk mendoakan Salim, lebih khusus lagi bagi ibunya yang tetap teguh menjalankan tugasnya walaupun suaminya pergi. Jadilah ibu tersebut seperti perusahaan sebenarnya yang menghasilkan kaum laki-laki yang kuat. Semoga Allah membalas amal kebaikannya.</p>
<p>(Pelaku dari kisah ini termasuk diantara dai yang ternama dan terkenal. Ia memiliki banyak rekaman, ceramah dan tulisan. Sumber diambil dari kisah yang berjudul &#8220;Allah Azza wa Jalla memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki&#8221;, majalah Qiblati edisi 02 thn VII).</p>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-islam/'>Artikel Islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-motivasi-2/'>Artikel Motivasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/keluarga/'>Keluarga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah/'>Kisah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah-hikmah/'>Kisah Hikmah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/aborsi/'>aborsi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/allah/'>Allah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/anda/'>Anda</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/belum/'>Belum</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/bukan/'>Bukan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/cacat-aborsi/'>cacat aborsi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/cacat-permanen/'>cacat permanen</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/fianna-fail/'>Fianna Fáil</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kisah-anak-cacat/'>kisah anak cacat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kisahsalim/'>kisahsalim</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/maha-suci-allah/'>Maha Suci Allah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/ridha/'>ridha</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/salim/'>salim</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/salim-yang-cacat/'>salim yang cacat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/sebab-cacat/'>sebab cacat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/shinee/'>Shinee</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/suami-istri/'>suami istri</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/tabah/'>tabah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/umar/'>Umar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/509/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=509&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/12/16/anak-cacat-itu-bernama-salim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/386104_1671176276590_1752889223_792705_1624270886_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>MISTERI KETUKAN DI MALAM PENGANTIN</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/12/16/misteri-ketukan-di-malam-pengantin/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/12/16/misteri-ketukan-di-malam-pengantin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 10:12:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Baiklah]]></category>
		<category><![CDATA[Fianna Fáil]]></category>
		<category><![CDATA[Kini]]></category>
		<category><![CDATA[kisah malam pertama]]></category>
		<category><![CDATA[kisah pengantin]]></category>
		<category><![CDATA[Laki]]></category>
		<category><![CDATA[Maka]]></category>
		<category><![CDATA[malam pertama]]></category>
		<category><![CDATA[Oppas]]></category>
		<category><![CDATA[pengantin]]></category>
		<category><![CDATA[pengantin baru]]></category>
		<category><![CDATA[pengemis]]></category>
		<category><![CDATA[Peranakan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[suami isteri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=505</guid>
		<description><![CDATA[Kisah seorang gadis muslimah yang menjaga kehormatannya, menutup wajahnya dengan cadar, komitmen dengan agamanya dan begitu mulia budi pekertinya. Dengan karunia dan pengaturan-Nya, Allah lalu mengaruniakannya dengan seorang pria muslim tanpa ia harus menyingkap wajah dan kedua tangannya, atau anggota &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/12/16/misteri-ketukan-di-malam-pengantin/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=505&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah seorang gadis muslimah yang menjaga kehormatannya, menutup wajahnya dengan cadar, komitmen dengan agamanya dan begitu mulia budi pekertinya. Dengan karunia dan pengaturan-Nya, Allah lalu mengaruniakannya dengan seorang pria muslim tanpa ia harus menyingkap wajah dan kedua tangannya, atau anggota tubuhnya yang lain sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian pemudi hari ini yang mengaku modern, berbicara bebas, tersenyum dan tertawa di depan kaum pria tanpa beban sama sekali&#8230;</p>
<p><span id="more-505"></span>Dan tibalah saatnya melewati malam pertama. Kedua pengantin baru itupun masuk ke rumah mereka. Sang istri menghidangkan makan malam untuk suami, dan keduanya pun berkumpul bersama di meja makan.</p>
<p>Tiba-tiba keduanya mendengar suara pintu yang diketuk. Sang suami merasa terganggu dengan itu dan dengan marah ia berkata: &#8220;Siapa itu yang datang disaat seperti ini?!&#8221;</p>
<p>Sang istri segera berdiri untuk membuka pintu. Di balik pintu ia berdiri dan bertanya: &#8220;Siapakah gerangan di balik pintu?&#8221;</p>
<p>Sebuah suara dari balik pintu pun menjawab: &#8220;Seorang peminta-minta mohon diberi sedikit makanan?&#8221;</p>
<p>Sang istri itu kembali menemui suaminya. Sang suami segera saja bertanya: &#8220;Siapakah yang di pintu itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hanya seorang peminta-minta yang meminta sedikit makanan&#8230;,&#8221; jawab istri.</p>
<p>Mendengar itu, sang suami tiba-tiba sangat marah. &#8220;Apakah orang ini yang mengganggu waktu istirahat kita dan di malam pertama pernikahan kita??!!&#8221;</p>
<p>Laki-laki itu segera saja keluar, dan tanpa basa-basi ia memukul tukang minta-minta itu tanpa ampun. Lalu setelah itu, ia mengusir laki-laki malang itu dengan penuh penghinaan.</p>
<p>Pria peminta-minta itupun keluar meninggalkan pekarangan rumah mereka, dan ia masih dalam rasa laparnya yang sangat dalam ditambah luka-luka yang memenuhi sekujur tubuhnya. Dan bukan hanya sekujur tubuhnya, namun juga seluruh kehormatannya&#8230;</p>
<p>Lalu pria pengantin baru itu kembali menemui istrinya. Namun perasaannya sudah sangat tidak enak akibat kejadian yang tiba-tiba saja membuyarkan kenikmatan bermesraan berdua bersama istrinya&#8230;</p>
<p>Dan tiba-tiba saja, laki-laki ini berubah seperti orang yang kesetanan. Dunia tiba-tiba menjadi sempit dalam perasaannya. Ia keluar dari rumahnya sambil berteriak-teriak seperti orang gila. Ia pergi begitu saja meninggalkan istrinya yang bingung dan ketakutan menyaksikan pemandangan mengerikan yang dialami suaminya, yang tiba-tiba saja meninggalkannya di malam pertama, bulan madunya. Tapi itulah kehendak Allah&#8230;</p>
<p>LIMA BELAS TAHUN KEMUDIAN&#8230;</p>
<p>Wanita itu sungguh luar biasa. Selama itu ia bertahan dan bersabar. Selama 15 tahun itu, ia tak lagi tahu kemana suaminya pergi dan menghilang. Yah, sejak peristiwa yang sangat menakutkan di malam pertama pernikahan mereka&#8230;</p>
<p>15 tahun ia rasa telah cukup.Ia sudah kehilangan harapan. Maka ketika seorang pria datang untuk melamarnya, ia pun menerima lamaran itu. Dan terjadilah kembali sebuah pernikahan dalam hidupnya.</p>
<p>Dan di malam pertama pernikahan mereka, kedua insan yang baru saja terikat dalam ikatan cinta pernikahan itupun duduk bersama di depan meja makan untuk makan malam&#8230;</p>
<p>Baru saja mereka akan menikmati hidangan malam itu, tiba-tiba mereka mendengar suara pintu diketuk oleh seseorang. Sang suami pun mengatakan kepada wanita itu: &#8220;Istriku, pergilah dan coba lihat siapakah gerangan yang mengetuk pintu rumah kita?&#8221;</p>
<p>Wanita itu pun berdiri dan mendekati pintu. Dari balik pintu ia bertanya: &#8220;Siapakah gerangan di balik pintu itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Seorang peminta-minta, Nyonya. Saya kelaparan, saya minta sedikit saja makanan Nyonya,&#8221; jawab seorang pria dengan suara yang sangat lemah.</p>
<p>Wanita itupun kembali menemui suaminya. Dan ketika suaminya menanyakan siapa yang di balik pintu itu, ia pun menjelaskan bahwa ada seorang peminta-minta yang kelaparan dan meminta sedikit makanan.</p>
<p>Dengan tersenyum, sang suami mengangkat hidangan yang ada di meja dan mengatakan kepada istrinya: &#8220;Baiklah, bawakan untuknya semua makanan ini, dan biarkanlah ia makan sampai ia merasa kenyang. Jika ada yang tersisa, barulah kita akan memakannya, istriku&#8230;&#8221;</p>
<p>Wanita itupun segera menjalankan apa yang diperintah oleh suaminya. Ia pun membawakan makanan itu kepada pria peminta-minta itu&#8230;</p>
<p>Namun tiba-tiba saja, wanita itu kembali dengan tangisan yang tersedu-sedu&#8230;</p>
<p>Sang suami bertanya penuh keheranan: &#8220;Ada apa denganmu istriku? Mengapa engkau menangis? Apa yang telah terjadi? Apakah peminta-minta itu mengganggumu?&#8221;</p>
<p>Dengan air mata yang terus bercucuran wanita itu menjawab: &#8220;Tidak, suamiku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah ia mencacimu?&#8221;</p>
<p>Wanita itu menjawab: &#8220;Tidak, suamiku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah ia menyakitimu?&#8221; tanya suaminya sekali lagi.</p>
<p>&#8220;Sama sekali tidak, wahai suamiku,&#8221; jawabnya tetap sama.</p>
<p>&#8220;Lalu mengapa engkau menangis, istriku?&#8221; tanya sang suami semakin heran.</p>
<p>Wanita itu pun mulai menjelaskan sebab tangisannya itu:</p>
<p>&#8220;Pria peminta-minta yang duduk dan sedang menikmati makanan di depan pintu rumahmu itu adalah pria yang 15 tahun yang lalu pernah menjadi suamiku. Waktu itu, dimalam pertama pernikahanku, seorang peminta-minta datang mengetuk-ngetuk pintu rumah kami. Lalu suamiku keluar menemui dan memukul pria malang itu dengan sangat menyakitkan. Tidak hanya itu, ia kemudian mengusirnya pergi. Setelah itu ia kembali menemuiku di dalam rumah, namun tiba-tiba saja ia seperti kemasukan setan atau jin. Tiba-tiba saja ia keluar seperti orang gila dan pergi tanpa ia tahu kemana ia harus pergi. Dan sejak saat itu, aku tak pernah melihatnya hingga hari ini, dan ternyata dia telah menjadi seorang peminta-minta&#8230;&#8221;</p>
<p>Dan tiba-tiba saja, sekarang giliran sang suami yang menangis sejadi-jadinya. Kini wanita itu yang penuh keheranan: &#8220;Mengapa engkau menangis, suamiku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah engkau kenal dengan siapa pria peminta-minta yang dipukuli oleh suamimu pada malam itu?&#8221; tanya pria itu pada istrinya.</p>
<p>&#8220;Siapakah dia, suamiku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Akulah pria peminta-minta itu&#8230;,&#8221; jawab sang suami.</p>
<p>Subhanallah, benar-benar Maha Suci Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa untuk memberikan balasan yang setimpal. Yang telah membalaskan dendam hamba-Nya yang fakir dan miskin, yang datang dengan kepala tertunduk malu meminta-minta kepada orang lain, sementara rasa lapar memenuhi rongga-rongga tubuhnya. Lalu penderitaan itu ditambah lagi oleh &#8216;suami pertama&#8217; wanita itu dengan pukulan dan penghinaan&#8230;</p>
<p>Tapi Allah tidak akan pernah  meridhai sebuah kezhaliman. Ia pun menurunkan balasan-Nya kepada siapa saja yang merendahkan dan menzhalimi seorang insan. Ia akan memberikan ganjaran kepada setiap hamba yang bersabar. Maka dunia pun berputar. Kepada hamba yang miskin itu, Allah karuniakan rizki yang berlimpah. Sementara pria yang zhalim itu dibalas dengan kehilangan akal sehat dan harta bendanya, hingga sekarang justru ia yang meminta-minta kepada orang lain.</p>
<p>Dan Maha Suci Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah, yang kemudian mengaruniakan sang wanita shalihah yang bersabar melewati ujian Allah selama 15 tahun. Allah memberikannya pengganti yang jauh lebih baik dari suaminya yang dulu&#8230;</p>
<p>(Sumber: &#8220;Chicken Shoup for Muslim&#8221;, oleh Ahmad Salim Baduwailan).</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah seorang itu dinilai jahat jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim” (HR Muslim dari Abu Hurairah)</p>
<p>عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الأَسْقَعِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ ».</p>
<p>Dari Watsilah bin al Asqa’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah engkau menampakkan rasa gembira saat saudaramu sesama muslim menderita kesusahan. Hal itu menjadi sebab Allah menyayanginya dan menimpakan cobaan pada dirimu” (HR Tirmidzi no 2506. Hadits ini dinilai hasan gharib oleh Tirmidzi namun dinilai lemah oleh al Albani).</p>
<p>Abdullah bin Mas’ud mengatakan, ‘Bencana itu terjadi gara-gara ucapan lisan. Andai aku mengolok-olok seekor anjing tentu aku khawatir kalau aku diubah menjadi seekor anjing’ (Hasyiyah ash Showi ‘ala Tafsir al Jalalain 4/143, terbitan Dar al Fikr).</p>
<p>Ada salah seorang salaf yang mengatakan, ‘Jika aku melihat seorang yang menetek pada anak kambing lalu aku mentertawakannya tentu aku merasa khawatir andai aku melakukan apa yang dia lakukan’.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-islam/'>Artikel Islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-motivasi-2/'>Artikel Motivasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/keluarga/'>Keluarga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah/'>Kisah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah-hikmah/'>Kisah Hikmah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/allah/'>Allah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/baiklah/'>Baiklah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/fianna-fail/'>Fianna Fáil</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kini/'>Kini</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kisah-malam-pertama/'>kisah malam pertama</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kisah-pengantin/'>kisah pengantin</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/laki/'>Laki</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/maka/'>Maka</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/malam-pertama/'>malam pertama</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/oppas/'>Oppas</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pengantin/'>pengantin</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pengantin-baru/'>pengantin baru</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pengemis/'>pengemis</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/peranakan/'>Peranakan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pernikahan/'>pernikahan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/suami-isteri/'>suami isteri</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/505/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/505/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/505/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/505/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/505/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/505/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/505/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/505/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/505/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/505/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/505/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/505/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/505/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/505/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=505&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/12/16/misteri-ketukan-di-malam-pengantin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MIRIS..!! Sebuah Surat Untuk Negri Indonesia Dari Pejuang Hamas &#8220;Gaza&#8221;</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/12/08/miris-sebuah-surat-untuk-negri-indonesia-dari-pejuang-hamas-gaza/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/12/08/miris-sebuah-surat-untuk-negri-indonesia-dari-pejuang-hamas-gaza/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 04:41:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[bayi terbunuh]]></category>
		<category><![CDATA[berita gaza]]></category>
		<category><![CDATA[berita haji]]></category>
		<category><![CDATA[berita palestina]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[dentum meriam]]></category>
		<category><![CDATA[gaza]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[ibu menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[jamaah haji indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan palestina]]></category>
		<category><![CDATA[mujahid]]></category>
		<category><![CDATA[palestina]]></category>
		<category><![CDATA[palestina merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[perang palestina]]></category>
		<category><![CDATA[surat]]></category>
		<category><![CDATA[surat dari gaza]]></category>
		<category><![CDATA[surat dari palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[“Untuk saudaraku di Indonesia, mengapa saya harus memilih dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia. Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki adalah karena negri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/12/08/miris-sebuah-surat-untuk-negri-indonesia-dari-pejuang-hamas-gaza/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=502&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/379933_2459424363486_1188473494_2281663_19271000_n.jpg" alt="" /></p>
<p>“Untuk saudaraku di Indonesia, mengapa saya harus memilih dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia. Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa?</p>
<p>Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki adalah karena negri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku?</p>
<p><span id="more-502"></span>Di saat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis dakwah dari jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.</p>
<p>Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku, jika jumlah jama’ah haji asal Gaza sejak tahun 1987 sampai sekarang digabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negara kalian dalam satu musim haji saja.</p>
<p>Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat dibanding kalian. Wah pasti uang kalian sangat banyak, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang memnunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, Subhanallah.</p>
<p><strong>Wahai saudaraku di Indonesia</strong></p>
<p>Pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa saya dan kami yang ada di Gaza ini, tidak dilahirkan di negri kalian saja. Pasti sangat indah dan mengagumkan. Negri kalian aman, kaya, dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negri kalian.</p>
<p>Pasti ibu-ibu disana amat mudah menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapoatkan di toko-toko dan para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.</p>
<p>Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku, tidak seperti di negri kami ini. Tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah.</p>
<p>Sehingga istri kami terpaksa melahirkan di atas mobil, ya di atas mobil saudaraku.!</p>
<p>Susu formula bayi adalah barang langka di Gaza sejak kami diblokade 2 tahun yang lalu, namun istri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga 2 tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar Asi mereka, istri kami rela minum air rendaman gandum.</p>
<p><img src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/391950_2459429843623_1188473494_2281667_1542228330_n.jpg" alt="" /></p>
<p>Namun, mengapa di negri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya. Terkadang ditemukan mati di parit-parit, selokan, dan tempat sampah. Itu yang kami dapat dai informasi di televisi.</p>
<p>Dan yang membuat saya terkejut dan merinding, ternyata negri kalian adalah negri yang tertinggi kasus aborsinya untuk wilayah Asia. Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah karena di negri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina seperti itu? Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami disini.</p>
<p>Memeang hampir setiap hari di Gaza sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati. Namun, bukanlah di selokan-selokan atau got-got apalagi di tempat sampah. Mereka mati syahid saudaraku! Mati syahid karena serangan roket tentara Israel!</p>
<p>Kami temukan mereka tak bernyawa lagi di pangkuan ibunya, di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan Zionis Israel. Saudaraku, bagi kami nilai seorang bayi adalah aset perjuangan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan negri ini.</p>
<p>Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 Desember 2009 kemarin, saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 di antaranya adalah anak-anak kami, namun sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar, Allahu Akbar!</p>
<p><img src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/383087_2459438163831_1188473494_2281674_1607388798_n.jpg" alt="" /></p>
<p><strong>Wahai saudaraku di Indonesia</strong></p>
<p>Negri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, namun kenapa di negri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa karena sulit mencari rizki disana? Apa negri kalian diblokade juga?</p>
<p>Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi, apalagi sampai mati kelaparan, walau sudah lama kami diblokade.</p>
<p>Sungguh kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai tata usaha di kantor pemerintahan HAMAS sudah 7 bulan ini belum menerima gaji bulanan saya. Tetapi Allah SWT yang akan mencukupkan rizki untuk kami.</p>
<p>Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan. Ya, mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah diantara bunyi letupan bom dan peluru, saudaraku.Dan Perdana Menteri kami, Ust Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga baru tersebut.</p>
<p><img src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/376421_2459432083679_1188473494_2281671_370516382_n.jpg" alt="" /></p>
<p><strong>Wahai saudaraku di Indonesia</strong></p>
<p>Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqah pembinaan di negri antum (anda). Seperti yang diceritakan teman saya, program pengajian kalian pasti bagus, banyak kitab mungkin yang kalian yang telah baca. Dan banyak buku-buku pasti sudah kalian baca. Kalian pun bersemangat kan? Itu karena kalian punya waktu.</p>
<p>Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini. Satu jam, ya satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqah. Setelah itu kami harus terjun ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kami.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kami disini sangan menanti-nantikan saat halaqah tersebut walau hanya satu jam. Tentu kalian lebih bersyukur. Kalian punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqah, seperti ta’aruf, tafahum, dan takaful disana.</p>
<p>Halafalan antum pasti lebih banyak daripada kami. Semua pegawai dan pejuang HAMAS disini wajib menghapal Surah Al-Anfal sebagai nyanyian perang kami, saya menghafal di sela-sela waktu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?</p>
<p>Akhir Desember kemarin, saya menghadiri acar wisuda penamatan hafalan 30 Juz anakku yang pertama. Ia merupakan diantara 1000 anak yang tahun ini menghafal Al-Qur’an dan umurnya baru 10 tahun. Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal Al-Qur’an ketimbang anak-anak kimi disini.</p>
<p>Di Gaza tidak ada SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) seperti di tempat kalian yang menyebar seperti jamur di musim hujan. Disini anak-anak belajar diantara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun kurma.</p>
<p>Ya, di tempat itu mereka belajar, saudaraku. Bunyi suara setoran hafalan Al-Qur’an mereka bergemuruh dianatara bunyi-bunyi senapan tentara Israel. Ayat-ayat jihad paling cepat mereka hafal, karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung mereka rasakan.</p>
<p>Oh iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia. Kami menyaksikan aksi demo-demo kalian disini. Subhanallah, kami sangat terhibur.</p>
<p>Karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini.Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini, termasuk kalian yang di Indonesia. Namun, bukan tangisan kalian yang kami butuhkan , saudaraku.</p>
<p>Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhwah kalian kepada kami. Doa-doa dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.</p>
<p>Oh iya, hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telpon dan fax yang masuk. Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi. Salam untuk semua pejuang-pejuang Islam dan ulama-ulama kalian.</p>
<p><strong>Abdullah Al Ghaza</strong></p>
<p><a href="http://www.noveloke.com/2011/11/miris-sebuah-surat-untuk-negri.html" target="_blank">http://www.noveloke.com/2011/11/miris-sebuah-surat-untuk-negri.html</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-islam/'>Artikel Islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah/'>Kisah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah-nyata-2/'>Kisah Nyata</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/bayi-terbunuh/'>bayi terbunuh</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/berita-gaza/'>berita gaza</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/berita-haji/'>berita haji</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/berita-palestina/'>berita palestina</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/dakwah/'>dakwah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/dentum-meriam/'>dentum meriam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/gaza/'>gaza</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/haji/'>haji</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/ibu-menyusui/'>ibu menyusui</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/jamaah-haji-indonesia/'>jamaah haji indonesia</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kemerdekaan-palestina/'>kemerdekaan palestina</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/mujahid/'>mujahid</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/palestina/'>palestina</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/palestina-merdeka/'>palestina merdeka</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/perang/'>perang</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/perang-palestina/'>perang palestina</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/surat/'>surat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/surat-dari-gaza/'>surat dari gaza</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/surat-dari-palestina/'>surat dari palestina</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/502/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=502&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/12/08/miris-sebuah-surat-untuk-negri-indonesia-dari-pejuang-hamas-gaza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/379933_2459424363486_1188473494_2281663_19271000_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/391950_2459429843623_1188473494_2281667_1542228330_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/383087_2459438163831_1188473494_2281674_1607388798_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/376421_2459432083679_1188473494_2281671_370516382_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Filosofi Pensil</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/10/20/filosofi-pensil/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/10/20/filosofi-pensil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 04:03:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[berhasil]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[gagal]]></category>
		<category><![CDATA[macet]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[pabrik]]></category>
		<category><![CDATA[pensil]]></category>
		<category><![CDATA[rusak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Filosofi Pensil “Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil ada penghapusnya” (Pepatah Jepang). Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/10/20/filosofi-pensil/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=497&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Filosofi Pensil</p>
<p>“Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil ada penghapusnya” (Pepatah Jepang).<br />
Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya. Maka, beberapa wejangan pun diberikan kepada si pensil. Inilah yang dikatakan oleh si pembuat pensil tersebut kepada pensilnya.<br />
“Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apa pun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat penulis. Kalau kamu gagal berfungsi sebagai alat tulis. Macet, rusak, maka tugas utamamu gagal.”<br />
<span id="more-497"></span>“Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan mengalami proses penajaman. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akan membuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi optimal”.<br />
“Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi manusia”.<br />
“Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan manusia yang menggunakanmu”.<br />
“Kelima. Di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkan itulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya. Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi hingga potongan terpendek. Itulah yang sebenarnya paling mencapai<br />
tujuanmu dibuat”.</p>
<p>Sejak itulah, pensil-pensil itu pun masuk ke dalam kotaknya, dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang membutuhkannya. Pembaca, pensil-pensil ini pun mengingatkan kita mengenai tujuan dan misi kita berada di dunia ini. Saya pun percaya bahwa bukanlah tanpa sebab kita berada dan diciptakan ataupun dilahirkan di dunia ini.</p>
<p>Yang jelas, ada sebuah purpose dalam diri kita yang perlu untuk digenapi dan diselesaikan. Sama seperti pensil itu, begitu pulalah diri kita yang berada di dunia ini. Apa pun profesinya, saya yakin kesadaran kita mengenai tujuan dan panggilan hidup kita, akan membuat hidup kita menjadi semakin bermakna.</p>
<p>Hilang arah</p>
<p>Tidak mengherankan jika Victor Frankl yang memopulerkan Logoterapi, yang dia sendiri pernah disiksa oleh Nazi, mengemukakan “tujuan hidup yang jelas, membuat orang punya harapan serta tidak mengakhiri hidupnya”. Itulah sebabnya, tak mengherankan jika dikatakan bahwa salah satu penyebab terbesar dari angka bunuh diri adalah kehilangan<br />
arah ataupun tujuan hidup. Maka, dari filosofi pensil di atas kita belajar mengenai lima hal penting dalam kehidupan.</p>
<p>Pertama, hidup harus punya tujuan yang pasti. Apapun kerja, profesi atau pun peran yang kita mainkan di dunia ini, kita harus berdaya guna. Jika tidak, maka sia-sialah tujuan diri kita diciptakan. Celakanya, kita lahir tanpa sebuah instruksi ataupun buku manual yang menjelaskan untuk apakah kita hadir di dunia ini. Pencarian akan tujuan dan panggilan kita, menjadi tema penting selama kita hidup di dunia.</p>
<p>Yang jelas, kehidupan kita dimaknakan untuk menjadi berguna dan bermanfaat serta positif bagi orang-orang di sekitar kita, minimal untuk orang-orang terdekat. Jika tidak demikian, maka kita useless. Tidak ada gunanya. Sama seperti sebatang pensil yang tidak bisa dipakai menulis, maka ia tidaklah berguna sama sekali.</p>
<p>Kedua, akan terjadi proses penajaman sehingga kita bisa berguna optimal, oleh karena itulah, sering terjadi kesulitan, hambatan ataupun tantangan. Semuanya berguna dan bermanfaat sehingga kita selalu belajar darinya untuk menjadi lebih baik. Ingat kembali soal Lee Iacocca, salah satu eksekutif yang justru menjadi besar dan terkenal, setelah dia didepak keluar dari mobil Ford. Pengalaman itu justru menjadi pemacu semangat baginya untuk berhasil di Chrysler.<br />
Ingat pula, Donald Trump yang sempat diguncang masalah finansial dan nyaris bangkrut. Namun, kebangkrutannya itulah yang justru menjadi pelajaran dan motivasi baginya untuk sukses lebih langgeng. Kadang penajaman itu ’sakit’. Namun, itulah yang justru akan memberikan kesempatan kita mengeluarkan yang terbaik.<br />
Ketiga, bagian internal diri kitalah yang akan berperan. Saya sering menyaksikan banyak artis, ataupun bintang film yang terkenal, justru yang hebat bukanlah karena mereka paling cantik ataupun paling tampan. Tetapi, kemampuan dalam diri mereka, filosofi serta semangat merekalah yang membuat mereka menjadi luar biasa.</p>
<p>Demikian pula pada diri kita. Pada akhirnya, apa yang ada di dalam diri kita seperti karakter, kemampuan, bakat, motivasi, semangat, pola pikir itulah yang akan lebih berdampak daripada tampilan luar diri kita.<br />
Keempat, pensil pun mengajarkan agar bisa berfungsi sempurna kita<br />
harus belajar bekerja sama dengan orang lain. Bayangkanlah seorang aktor atau aktris yang tidak mau diatur sutradaranya. Bayangkan seorang anak buah yang tidak mau diatur atasannya. Ataupun seorang service provider yang tidak mau diatur oleh pelanggannya. Mereka semua tidak akan berfungsi sempurna. Agar berhasil, kadang kita harus belajar dari pensil untuk ‘tunduk’ dan membiarkan diri kita berubah menjadi alat yang sempurna dengan belajar dan mendengar dari ahlinya. Itulah sebabnya, kemampuan untuk belajar bekerja sama dengan orang lain, mendengarkan orang lain, belajar dari ‘guru’ yang lebih tahu adalah sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik. Terakhir, pensil pun mengajarkan kita meninggalkan warisan yang berharga melalui karya-karya yang kita tinggalkan. Tugas kita bukan kembali dalam kondisi utuh dan sempurna, melainkan menjadikan diri kita berarti dan berharga. Itulah filosofi ‘memberi dan melayani’ yang diajarkan oleh Tuhan kita. Itulah sebabnya Ibu Teresa dari Calcutta ataupun Albert Schweitzer yang melayani di Afrika lebih mengumpamakan diri mereka seperti sebatang pensil yang dipakai oleh Tuhan. Yang penting, hingga pada akhir kehidupan kita ada karya ataupun hasil berharga yang mampu kita tinggalkan. Tentu saja tidak perlu yang heboh dan spektakuler.</p>
<p>Sumber: Filosofi Pensil oleh Anthony Dio Martin</p>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-motivasi-2/'>Artikel Motivasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah/'>Kisah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah-hikmah/'>Kisah Hikmah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/berhasil/'>berhasil</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/filosofi/'>filosofi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/filsafat/'>filsafat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/gagal/'>gagal</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/macet/'>macet</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/menulis/'>menulis</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pabrik/'>pabrik</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pensil/'>pensil</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/rusak/'>rusak</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/497/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=497&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/10/20/filosofi-pensil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Seikat Kembang</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/10/19/kisah-seikat-kembang/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/10/19/kisah-seikat-kembang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Oct 2011 03:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[bunga]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[kembang]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[mobil]]></category>
		<category><![CDATA[penunggu kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[seikat kembang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum. Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata, &#8220;Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil itu? &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/10/19/kisah-seikat-kembang/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=494&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum.</p>
<p>Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata, &#8220;Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil itu? Tolonglah Pak, karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal!&#8221;</p>
<p>Penjaga kuburan itu menganggukkan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu.</p>
<p><span id="more-494"></span>Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata, &#8220;Saya Ny. Steven. Saya yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda. Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya.&#8221;<br />
&#8220;O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda.&#8221; jawab pria itu.<br />
&#8220;Apa, maaf?&#8221; tanya wanita itu dengan gusar.<br />
&#8220;Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat keindahan seikat kembang. Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman kembang-kembang itu, Nyonya,&#8221; jawab pria itu.<br />
Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.</p>
<p>Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan.<br />
&#8220;Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny. Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang sudah meninggal.</p>
<p>Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia.<br />
Sampai saat ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!&#8221;</p>
<p>insight :</p>
<p>Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena mengasihani diri sendiri akan membuat kita terperangkap di kubangan kesedihan. Ada prinsip yang mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu dengan menolong orang lain sesungguhnya kita menolong diri sendiri.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-motivasi-2/'>Artikel Motivasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/keluarga/'>Keluarga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah/'>Kisah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah-hikmah/'>Kisah Hikmah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/bunga/'>bunga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kematian/'>kematian</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kembang/'>kembang</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kuburan/'>kuburan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/meninggal/'>meninggal</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/mobil/'>mobil</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/penunggu-kuburan/'>penunggu kuburan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/seikat-kembang/'>seikat kembang</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/494/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=494&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/10/19/kisah-seikat-kembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kado Cinta</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/10/18/kado-cinta/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/10/18/kado-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 03:55:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[cacat]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[melahirkan]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>
		<category><![CDATA[telinga]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=491</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;bisa saya melihat anak saya?&#8221; pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. ketika gendongan itu berpindah ke tangannya, dan membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ia menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik, memandang ke &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/10/18/kado-cinta/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=491&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;bisa saya melihat anak saya?&#8221; pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. ketika gendongan itu berpindah ke tangannya, dan membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ia menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik, memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua daun telinga!<br />
<span id="more-491"></span><br />
Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu sembari menangis. si ibu tahu bahwa hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. sambil terisak-isak, anak lelaki itu sering berkata &#8220;seorang anak laki-laki mengejekku. katanya aku ini makhluk aneh&#8221;.</p>
<p>anak lelaki itu tumbuh dewasa. ia cukup tampan meskipun cacat. teman-teman di sekolahnya pun menyukainya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan , &#8220;bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?&#8221;. Dalam hati si ibu merasa kasihan denganya.</p>
<p>suatu hari, ayah lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. &#8220;saya percaya saya bisa memindahkan sepasang daun telinga untuknya. Tetapi, harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,&#8221; kata dokter. Kemudian, orang tua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang bersedia mengorbankan telinga dan mendonorkannya. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya untuk memanggil anak lelakinya.</p>
<p>&#8220;nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dioperasi. Namun semua ini sangatlah rahasia,&#8221; kata sang ayah.</p>
<p>operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru dilahirkan. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian, ia menikah dan bekerja sebagai diplomat. Ia menemui ayahnya, &#8220;Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan semuanya ini padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, tapi aku sama sekali belum membalas kebaikannya.&#8221;</p>
<p>Ayahnya menjawab, &#8220;ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan daun telinga itu.&#8221; Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, &#8220;sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.&#8221;</p>
<p>tahun berganti tahun. kedua orang tua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. di hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah si ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibakkan sehingga tampaklah bahwa si ibu tidak memiliki daun telinga.</p>
<p>&#8220;ibumu pernah berkata bahwa ia merasa senang sekali karena bisa memanjangkan rambutnya&#8221;, bisik sang ayah. &#8220;dan tak seorangpun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?&#8221;</p>
<p>kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, tapi di dalam hati.</p>
<p>RENUNGAN</p>
<p>Don&#8217;t judge by its cover!</p>
<p>begitulah yang sering kita dengar saat menilai diri orang lain. penampilan luar acap kali menipu. tidak hanya dalam arti kiasan, tetapi juga dalam arti yang sesungguhnya. pernahkah anda mendengar kisah tentang seseorang yang tertipu ratusan juta rupiah hanya karena di datangi orang tak dikenal? pada umumnya, para penipu itu berpenampilan menarik. Jika tidak begitu, mana mungkin korbannya akan mudah percaya. seseorang tidak bisa dinilai sepintas lalu hanya dari penampilan luarnya. Apakah orang yang brewokan selalu di anggap jahat? Belum tentu. bisa jadi dalam hatinya penuh belas kasih.</p>
<p>sama hal nya ketika membeli buku. kita tidak akan tahu persis apa isinya, sebelum membaca tulisan di setiap halamannya.</p>
<p>harta karun hakiki tidak terletak pada apa yang terlihat, tetapi pada apa yang tidak terlihat.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-motivasi-2/'>Artikel Motivasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/keluarga/'>Keluarga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah/'>Kisah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah-hikmah/'>Kisah Hikmah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/ayah/'>ayah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/bayi/'>bayi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/cacat/'>cacat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/ibu/'>ibu</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/jenazah/'>jenazah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kecewa/'>kecewa</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/masalah/'>masalah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/melahirkan/'>melahirkan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/menikah/'>menikah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/menyusui/'>menyusui</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/suami/'>suami</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/telinga/'>telinga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/tragedi/'>tragedi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/491/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=491&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/10/18/kado-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Luangkan SEMENIT SAJA! Untuk Membaca Ini</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/06/23/luangkan-semenit-saja-untuk-membaca-ini/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/06/23/luangkan-semenit-saja-untuk-membaca-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jun 2011 01:09:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[adzan]]></category>
		<category><![CDATA[balasan]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[kesenangan]]></category>
		<category><![CDATA[lelucon]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[nonton]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sedih]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sulit]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>
		<category><![CDATA[tertawa]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini saya dapat dari kiriman teman lewat email. Semoga bermanfaat dunia akhirat, amiiin&#8230;. Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan, tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan! Betapa lamanya melayani Allah &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/06/23/luangkan-semenit-saja-untuk-membaca-ini/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=483&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini saya dapat dari kiriman teman lewat email.</p>
<p>Semoga bermanfaat dunia akhirat, amiiin&#8230;.</p>
<p>Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan, tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!</p>
<p><span id="more-483"></span>Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.</p>
<p>Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.</p>
<p>Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.</p>
<p>Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur&#8217;an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.</p>
<p>Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid</p>
<p>Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.</p>
<p>Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu, namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.</p>
<p>Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam al qur&#8217;an, namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.</p>
<p>Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci AlQuran.</p>
<p>Betapa Takutnya kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat menghadapnya namun betapa kita berani dan lamanya untuk menghadapNya saat kumandang azan menggema.</p>
<p>Betapa setiap orang ingin masuk surga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir atau mengatakan apa-apa atau berbuat apa-apa.</p>
<p>Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail,dan menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api, namun kalau ada mail yang isinya tentang Allah betapa seringnya kita ragu-ragu, enggan membukanya dan mensharingkannya, serta langsung klik pada icon<br />
DELETE.</p>
<p>ANDA TERTAWA &#8230;? atau ANDA BERPIKIR-PIKIR. &#8230;?</p>
<p>Sebar luaskanlah &amp; bersyukurlah kepada ALLAH YANG MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG.</p>
<p>Apakah tidak lucu apabila anda tidak memFORWARD pesan ini&#8230;. Betapa banyak<br />
orang tidak akan menerima pesan ini, karena anda tidak yakin bahwa mereka<br />
masih percaya akan sesuatu?</p>
<p>Silakan Copy Paste karena saya juga Copy Paste untuk disebarluaskan sesuai amanat yang saya dapat di email<br />
Thank to Unknown Author</p>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-motivasi-2/'>Artikel Motivasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/adzan/'>adzan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/balasan/'>balasan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/berpikir/'>berpikir</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/hidup/'>hidup</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/ibadah/'>ibadah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kesenangan/'>kesenangan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/lelucon/'>lelucon</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/nikmat/'>nikmat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/nonton/'>nonton</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/renungan/'>renungan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/sedih/'>sedih</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/sholat/'>sholat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/sulit/'>sulit</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/televisi/'>televisi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/tertawa/'>tertawa</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/waktu/'>waktu</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/483/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=483&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/06/23/luangkan-semenit-saja-untuk-membaca-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEGELISAHAN SEORANG AYAH TERJAWAB DI BAITULLAH</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/05/20/kegelisahan-seorang-ayah-terjawab-di-baitullah/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/05/20/kegelisahan-seorang-ayah-terjawab-di-baitullah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 00:43:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[aliran sesat]]></category>
		<category><![CDATA[aneh]]></category>
		<category><![CDATA[aneh tapi nyata]]></category>
		<category><![CDATA[baitullah]]></category>
		<category><![CDATA[besar]]></category>
		<category><![CDATA[gelisah]]></category>
		<category><![CDATA[hadir]]></category>
		<category><![CDATA[heran]]></category>
		<category><![CDATA[jawab]]></category>
		<category><![CDATA[ka'bah]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[nyata]]></category>
		<category><![CDATA[sadar]]></category>
		<category><![CDATA[sesat]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<category><![CDATA[tanda tanya]]></category>
		<category><![CDATA[tersenyum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=475</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini kembaLi saya ambiL dari kisah nyata seorang sahabat saya yang begitu dekat dengan saya. bahkan sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. BeLiau seorang ibu rumah tangga yang hari ini tinggaL di Bandung, Jawa Barat. pada awaL menikah &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/05/20/kegelisahan-seorang-ayah-terjawab-di-baitullah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=475&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah ini kembaLi saya ambiL dari kisah nyata seorang sahabat saya yang begitu dekat dengan saya.</p>
<p>bahkan sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. BeLiau seorang ibu rumah tangga yang hari ini tinggaL di Bandung, Jawa Barat.</p>
<p>pada awaL menikah sahabat saya ini tinggaL di Jakarta, dengan keadaan yang sangat sederhana dan mencoba mengadu nasib di kejamnya ibu kota.</p>
<p>Karena kondisi yang sangat sederhana ituLah ibu muda ini jarang sekaLi puLang ke orang tuanya di Jawa Timur.</p>
<p><span id="more-475"></span>tentu kita mahfum, keLuarga muda dengan ke 3 anaknya yang masih kecil-kecil sangat butuh biaya besar untuk berkunjung ke orang tuanya yang begitu jauh.. berada di ujung PuLau Jawa.</p>
<p>Bertahun-tahun tidak puLang, membuat orang tuanya merasa sedih dan geLisah ingin menjenguk anak cucunya.</p>
<p>pun lagi-lagi tidak bisa karena tidak di ketahui dimana alamatnya.</p>
<p>Sampai pada akhirnya.. orang tua sahabat saya itu mendengar kabar dari teman-teman anaknya bahwa : &#8220;Anaknya itu mengikuti sebuah ALIRAN SESAT.</p>
<p>Masya Allah&#8230; Seketika itu juga.. Ibunda sahabat saya menangis dengan kesedihan yang daLam.</p>
<p>&#8220;Duhai.. saLah apakah hamba ya Allah&#8230; hingga anak hamba menjadi seperti itu.. &#8220;, daLam shoLatnya ibunda sahabat saya bertanya-tanya pada Allah.</p>
<p>Sampai pada suatu ketika saat Hari Raya Fitri sahabat saya datang berkunjung ke rumah orang tuanya di Jawa Timur.</p>
<p>Betapa bahagia ibunda &amp; ayahanda beLiau menyambut kedatangan anak cucu mereka.</p>
<p>maka ditanyakanlah kabar yang tak sedap itu pada anaknya Langsung.</p>
<p>&#8220;Anakku&#8230; kami di sini mendengar bahwa kaLian mengikuti sebuah pengajian yang membuat kaLian menjadi terSESAT benarkah itu nak.. ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan yang kami dengar pengajian itu membuat kaLian MISKIN hingga Tidak mampu menjenguk kami disini.. Benarkah itu ?&#8221; tanya sang Ayah dengan penuh kecurigaan.</p>
<p>Sahabat saya hanya tersenyum, dengan bijak beLiau jeLaskan : &#8220;Kami baik-baik saja ibu.. ayah.. Insya Allah ananda Tidak pernah keLuar dari AJARAN ALLAH yang sering kaLi Ayah ibu ajarkan duLu pada kami.. &#8220;.</p>
<p>&#8220;Adapun keadaan kami yang beLum mapan ini.. Tidak mempengaruhi Rasa SYUKUR kami pada NIKMAT Allah yang begitu besar kami rasakan.. &#8220;.</p>
<p>&#8220;Ayah.. ibu.. jangan sesekali merasa khawatir akan keadaan kami.. kami baik-baik saja.. &#8220;. dengan penuh kebijakan sang menantu atau suami dari sahabat saya menjeLaskan semuanya.</p>
<p>tapi Hati orang tua mana yang tidak  merasa geLisah.. mendengar Berita dari teman-teman anaknya begitu Dhsyat mengguncangkan jiwanya.</p>
<p>Singkat cerita&#8230; TibaLah pada saat kedua orang tua sahabat saya menunaikan Ibadah Hajji ke Baitullah.</p>
<p>Semenjak masih di Tanah air Indonesia.. di daLam Hati sang Ayah teLah di SIAPkan sederet Do&#8217;a yang akan BeLiau panjatkan setibanya nanti di Kota Makkah.</p>
<p>Maka pada saat PERSIS di Hadapan KA&#8221;BAH.. Ayahanda sahabat saya berdo&#8217;a dengan khusyu, memanjatkan do&#8217;a untuk anaknya yang sangat ia kasihi di kota Jakarta.</p>
<p>BeLiau berdo&#8217;a seperti ini : Ya Allah ya Robbi RobbuL &#8216;ijati yang Maha meLihat dan tak pernah tidur, tunjukanLah pada kami.. bagaimanakah keadaan anak kami.. agar kami tau pasti yang HAQ itu HAQ, dan yang SaLah itu SaLah.</p>
<p>Dan apa yang terjadi&#8230; ????</p>
<p>Subhanallaaaahhhh&#8230;</p>
<p>Sungguh Luar Biasa !!!&#8221;</p>
<p>Pada saat itu juga.. tanpa Ayahanda SADARI do&#8217;a beLiau  TERJAWAB.</p>
<p>Dan  sang Ayah yang pada saat itu hanya berdua saja menunaikan Ibadah  Hajji nya ke Baitullah.</p>
<p>tiba-tiba&#8230; beLiau merasakan seLuruh ke 4 anaknya ikut serta ada &#8220;HADIR&#8221; di beLakangnya..</p>
<p>tapi anak kesayangan beLiau 1 orang Lagi Tidak ada.. ??? Kemana.. ??? dan Dimana putri kesayangannya itu.. ???</p>
<p>Tiba-tiba mata beLiau TERTEGUN.. sebab beLiau Terkejut meLihat dengan JELAS anak kesayangan nya ada di dalam BAITULLAH itu.. SUBHANALLAH&#8230;</p>
<p>Meskipun masih dengan TANDA TANYA BESAR di Hati beLiau.. Hatinya merasa Lega..</p>
<p>Sebab putri  kesayangannya ada di hadapannya yaitu JeLas terLihat di daLam BAITULLAH KA&#8217;BAH.</p>
<p>Sesampainya di Tanah air.. Kisah ANEH tapi NYATA ini.. di ceritakanLah pada anaknya.</p>
<p>Dan Sahabat saya merasa Bahagia mendengarnya&#8230;  pada akhirnya.. kekhawatiran sang Ayah terjawab sudah.</p>
<p>Meskipun sang Ayah masih merasa HERAN.. : Kenapa ke 4 anaknya ada di BeLakang beLiau.. ?</p>
<p>Tapi anak ke sayangannya.. Justru ada di Hadapannya dan Berada di dalam KA&#8217;BAH puLa ? yaitu :  BAITULLAH.</p>
<p>Kiranya.. HaL ini adaLah Pe&#8217;eR buat sang Ayah yang di berikan Allah.</p>
<p>Kenapa anak yang di khawatirkan SESAT.. ternyata berada di daLam BAITULLAH&#8230; ???</p>
<p>Sementara beLiau dan anak-anak yang lainnya Hanya berada di LUAR BAITULLAH.. ???</p>
<p>Wallahu&#8217;alam bi showab.</p>
<p>Hanya AL QUR&#8217;AN yang bisa menjawabnya.. (^_^)&#8217;</p>
<p>Sebagai referensi ayat&#8230; SiLahkan di baca daLam Qur&#8217;an Surat ke 8 ( AL ANFAAL ) ayat : 35.</p>
<p>By : <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100001931928277" target="_blank">TUTI SUGIARTI</a></p>
<p>NB : Kisah ini saya angkat dari KISAH NYATA.</p>
<p>yang terjadi pada Sahabat saya di Bandung.</p>
<p>Semoga kisah nyata ini akan semakin membuat kita ISTIQOMAH.</p>
<p>Amiiiiiiin&#8230; ya RobbaL&#8217;aLamiiiin..</p>
<p><strong>=====================</strong></p>
<p><strong>Artikel lainnya</strong></p>
<ul>
<li><a title="[Kisah Nyata] Ku Lepaskan Kau dengan Senyuman…" href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/04/14/kisah-nyata-ku-lepaskan-kau-dengan-senyuman%e2%80%a6/" target="_blank">[Kisah Nyata] Ku Lepaskan Kau dengan Senyuman…</a></li>
<li><a title="Cerpen Kisah Nyata : Keperawanan Hilang Di Malam Valentine" href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/02/14/cerpen-kisah-nyata-keperawanan-hilang-di-malam-valentine/" target="_blank">Cerpen Kisah Nyata : Keperawanan Hilang Di Malam Valentine</a></li>
<li><a title="Kisah Nyata – Kebesaran Jiwa Seorang Ibu" href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/02/20/kisah-nyata-kebesaran-jiwa-seorang-ibu/" target="_blank">Kisah Nyata – Kebesaran Jiwa Seorang Ibu</a></li>
<li><a title="SURAT DARI IBU YANG TERKOYAK HATINYA" href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/03/01/surat-dari-ibu-yang-terkoyak-hatinya/" target="_blank">SURAT DARI IBU YANG TERKOYAK HATINYA</a></li>
<li><a title="KISAH NYATA TENTANG POLIGAMI" href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/01/29/kisah-nyata-tentang-poligami/" target="_blank">KISAH NYATA TENTANG POLIGAMI</a></li>
<li><a title="Masuk Islam Gara-gara Dikejar Anjing" href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/01/08/masuk-islam-gara-gara-dikejar-anjing/" target="_blank">Masuk Islam Gara-gara Dikejar Anjing</a></li>
</ul>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-motivasi-2/'>Artikel Motivasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/keluarga/'>Keluarga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah/'>Kisah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah-hikmah/'>Kisah Hikmah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah-nyata-2/'>Kisah Nyata</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/aliran-sesat/'>aliran sesat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/aneh/'>aneh</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/aneh-tapi-nyata/'>aneh tapi nyata</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/baitullah/'>baitullah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/besar/'>besar</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/gelisah/'>gelisah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/hadir/'>hadir</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/heran/'>heran</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/jawab/'>jawab</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kabah/'>ka'bah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/ngaji/'>ngaji</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/nikmat/'>nikmat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/nyata/'>nyata</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/sadar/'>sadar</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/sesat/'>sesat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/syukur/'>syukur</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/tanda-tanya/'>tanda tanya</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/tersenyum/'>tersenyum</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/475/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=475&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/05/20/kegelisahan-seorang-ayah-terjawab-di-baitullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kutitip Surat Ini Untukmu</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/04/26/kutitip-surat-ini-untukmu/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/04/26/kutitip-surat-ini-untukmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Apr 2011 01:49:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[anakku]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[kata cinta]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[surat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=467</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu’alaikum, Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin… Wahai anakku, Surat ini datang dari Ibumu yang selalu &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/04/26/kutitip-surat-ini-untukmu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=467&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu’alaikum,</p>
<p>Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…</p>
<p>Wahai anakku,</p>
<p><span id="more-467"></span>Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…</p>
<p>Wahai anakku!</p>
<p>Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.</p>
<p>Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…</p>
<p>Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.</p>
<p>Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.</p>
<p>Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.</p>
<p>Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air ke kerongkonganku.</p>
<p>Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.</p>
<p>Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku!</p>
<p>Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.</p>
<p>Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.</p>
<p>Semakin dekat hari perkimpoianmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.</p>
<p>Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkimpoian itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.</p>
<p>Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.</p>
<p>Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.</p>
<p>Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.</p>
<p>Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!!</p>
<p>Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.</p>
<p>Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.</p>
<p>Sekiranya engakau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!?</p>
<p>Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman, “Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!” (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!</p>
<p>Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari keletihanku.</p>
<p>Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?! Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?</p>
<p>Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantumu . Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukku wahai anakku!</p>
<p>Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.</p>
<p>Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.</p>
<p>Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi.</p>
<p>Anakku… Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?!</p>
<p>Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits: “Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!” (HR. Ahmad)</p>
<p>Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.</p>
<p>Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya”, aku berkata: “Kemudian apa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Berbakti kepada kedua orang tua”, dan aku berkata: “Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”, lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.</p>
<p>Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?</p>
<p>Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang”, dikatakan, “Siapa dia,wahai Rasulullah?, Rasulullah menjawab, “Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga”. (HR. Muslim)</p>
<p>Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada dokter yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.</p>
<p>Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal… “Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…” Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.</p>
<p>Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>Ibumu</p>
<p>(Kutitip Surat Ini Untukmu, Karya Ustadz Armen Halim Naro, Lc)</p>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-islam/'>Artikel Islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-motivasi-2/'>Artikel Motivasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kajian-islam/'>Kajian Islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/keluarga/'>Keluarga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah-hikmah/'>Kisah Hikmah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/anakku/'>anakku</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/ibu/'>ibu</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kasih-ibu/'>kasih ibu</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kasih-sayang/'>kasih sayang</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kata-cinta/'>kata cinta</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/perhatian/'>perhatian</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/surat/'>surat</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/467/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=467&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/04/26/kutitip-surat-ini-untukmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih Musuh&#8230;.</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/04/24/terima-kasih-musuh/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/04/24/terima-kasih-musuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 01:10:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[akibat]]></category>
		<category><![CDATA[amal shalih]]></category>
		<category><![CDATA[api]]></category>
		<category><![CDATA[arena]]></category>
		<category><![CDATA[aroma]]></category>
		<category><![CDATA[buah]]></category>
		<category><![CDATA[cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[disiplin]]></category>
		<category><![CDATA[evaluasi]]></category>
		<category><![CDATA[harum]]></category>
		<category><![CDATA[iklim]]></category>
		<category><![CDATA[juara]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[kekurangan]]></category>
		<category><![CDATA[kelebihan]]></category>
		<category><![CDATA[kemarahan]]></category>
		<category><![CDATA[keseimbangan]]></category>
		<category><![CDATA[kompetisi]]></category>
		<category><![CDATA[kritik]]></category>
		<category><![CDATA[latihan]]></category>
		<category><![CDATA[lomba]]></category>
		<category><![CDATA[musuh]]></category>
		<category><![CDATA[pelatih]]></category>
		<category><![CDATA[pembela]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[persamaan]]></category>
		<category><![CDATA[sebab]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>
		<category><![CDATA[tantangan]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[timbangan]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[Terima kasih, musuh…! Engkau mengajariku bagaimana mendengar kritik yang pedas tanpa harus merasa galau. Engkau mengajariku bagaimana harus terus melangkah di jalan yang telah kutempuh tanpa ragu, meski kadang aku harus mendengar kata-kata yang kurang pantas atau tidak layak. Sungguh, &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/04/24/terima-kasih-musuh/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=461&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih, musuh…!</p>
<p>Engkau mengajariku bagaimana mendengar kritik yang pedas tanpa harus merasa galau. Engkau mengajariku bagaimana harus terus melangkah di jalan yang telah kutempuh tanpa ragu, meski kadang aku harus mendengar kata-kata yang kurang pantas atau tidak layak. Sungguh, ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran yang tidak bisa didapatkan secara teori, bahkan oleh seseorang yang telah berupaya dan berupaya. Sampai kemudian Allah mendatangkan orang lain sebagai pelatih, yang memaksa meneguk pil pahit untuk pertama kalinya, agar terbiasa untuk selanjutnya.</p>
<p>Terima kasih, musuh…!</p>
<p><span id="more-461"></span>Engkaulah penyebab lahirnya pendisiplinan diri; agar diri tidak hanyut oleh pujian para pemuji. Sungguh, Allah menjadikanmu sebagai penyeimbang. Agar, seseorang tidak tertipu oleh pujian, atau sanjungan orang yang berlebihan, atau ujub yang tidak pada tempatnya, dari para pengagum yang hanya melihat kebaikan dan kebaikan belaka. Berbeda dengan engkau! Engkau tidak melihat kecuali dari sisi lain. Atau, engkau sejatinya melihat kebaikan tapi engkau buat ia menjadi buruk.</p>
<p>Terima kasih, musuh…!</p>
<p>Engkau telah mencela lisan-lisan pembela kebenaran, menyerangnya, juga menentangnya, yang karenanya mengobarkan sikap pembelaan yang hebat.</p>
<p>Jika bukan karena nyala api yang membakarnya<br />
Aroma harum kayu gaharu takkan ada yang tahu</p>
<p>Terima kasih, terima kasih! Engkau mempunyai kelebihan –sekalipun tidak engkau inginkan– dalam menciptakan iklim keseimbangan, juga obyektifitas sebuah pemikiran. Kadang, manusia meletakkan al-haq melampaui kadarnya. Dan engkau, menjadi penyebab ditegakkannya keseimbangan. Penyebab adanya evaluasi dan perbaikan. Maka, janganlah engkau diperbudak kemarahan atas sebab penolakanmu. Sebab seseorang, jika kepentingan telah masuk, tak dapat lagi melihat dan berpikir jernih. Yang tersisa hanya menolak dan menentang. Tak ada lagi ketenangan dan kehati-hatiaan dalam dirinya. Tak ada lagi kecermatan dalam memandang pendapat orang yang berbeda dengannya. Padahal, boleh jadi yang berbeda itu benar, meski hanya sedikit.</p>
<p>Terima kasih, musuh…!</p>
<p>Sungguh, Engkau telah mengasah semangat, menciptakan tantangan, membuka arena, dan menggelar kompetisi. Hingga setiap orang benar-benar terobsesi memenangkan dirinya, berambisi meningkatkan dirinya, tuk meraih kedudukan yang tinggi nan utama. Ya, berlomba adalah sunnah syar’iyah, adalah ketentuan Rabbani. Bukankah Allah berfirman, “Maka, pada yang demikian itu hendaklah manusia mau berlomba.”</p>
<p>Tentu, kemuliaan sebuah perlombaan, didasarkan pada tata-cara yang mulia, tujuan yang benar, media yang sehat, serta rongga yang bersih.</p>
<p>Terima kasih, musuh…!</p>
<p>Engkaulah yang menempa kami untuk berlatih bersabar, berlatih tabah dalam menghadapi cobaan, dan berlatih membalas keburukan dengan kebaikan sekaligus penolakan.</p>
<p>Terima kasih, musuh…!</p>
<p>Ya, timbangan kebaikan seseorang kelak, kadang bukan buah dari amal shalih yang ia lakukan. Tetapi, ia buah dari kesabaran, buah dari bersikap baik, buah dari ridha atas ketentuan-Nya, buah dari bersikap memaafkan…</p>
<p>Musuhku…, aku sadar betul bahwa sebagian dari kata-kata ini membuatmu tidak berkenan, atau bahkan terasa menyesakkan hati. Tapi, sungguh saya tidak bermaksud membuatmu begitu. Sejujurnya saya katakan, engkau adalah teman sejati. Engkau adalah saudaraku seagama, sekalipun terdapat perbedaan pendapat di antara kita. Kalau saja kita mau melihat titik persamaan, cukup banyak yang bisa kita temukan.</p>
<p>Sumber: <a href="http://kautsarku.wordpress.com/2010/11/25/alhamdulillah-blog-ini-bisa-hadir-kembali/" target="_blank">kautsarku.wordpress.com</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah/'>Kisah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/akibat/'>akibat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/amal-shalih/'>amal shalih</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/api/'>api</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/arena/'>arena</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/aroma/'>aroma</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/buah/'>buah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/cobaan/'>cobaan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/disiplin/'>disiplin</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/evaluasi/'>evaluasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/harum/'>harum</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/iklim/'>iklim</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/juara/'>juara</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kebenaran/'>kebenaran</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kekurangan/'>kekurangan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kelebihan/'>kelebihan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kemarahan/'>kemarahan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/keseimbangan/'>keseimbangan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kompetisi/'>kompetisi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kritik/'>kritik</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/latihan/'>latihan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/lomba/'>lomba</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/musuh/'>musuh</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pelatih/'>pelatih</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pembela/'>pembela</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/perbedaan/'>perbedaan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/persamaan/'>persamaan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/sebab/'>sebab</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/semangat/'>semangat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/tantangan/'>tantangan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/terima-kasih/'>terima kasih</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/timbangan/'>timbangan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/ucapan/'>ucapan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/ujian/'>ujian</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/461/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=461&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/04/24/terima-kasih-musuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Kisah Nyata] Ku Lepaskan Kau dengan Senyuman…</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/04/14/kisah-nyata-ku-lepaskan-kau-dengan-senyuman%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/04/14/kisah-nyata-ku-lepaskan-kau-dengan-senyuman%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 08:38:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[akhwat]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah kampus]]></category>
		<category><![CDATA[epilepsi]]></category>
		<category><![CDATA[fakultas]]></category>
		<category><![CDATA[farmasi]]></category>
		<category><![CDATA[kahwat ngaji]]></category>
		<category><![CDATA[kontrakan]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswi]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji]]></category>
		<category><![CDATA[pengajian]]></category>
		<category><![CDATA[praktikum]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[semester]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tahlil]]></category>
		<category><![CDATA[tugas]]></category>
		<category><![CDATA[universitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Kukenal dia ketika aku semester awal S1 di fakultas Farmasi pada salah satu Universitas Swasta terbesar di Makassar. Nisa (nama samaran)  itulah namanya, kesan pertama yang kudapatkan tentangnya. Subhanallah Allah menganugrahkan keelokan padanya dengan mengindahkan rupanya. Nisa gadis yang sangat &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/04/14/kisah-nyata-ku-lepaskan-kau-dengan-senyuman%e2%80%a6/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=451&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kukenal dia ketika aku semester awal S1 di fakultas Farmasi pada salah satu Universitas Swasta terbesar di Makassar. Nisa (nama samaran)  itulah namanya, kesan pertama yang kudapatkan tentangnya. Subhanallah Allah menganugrahkan keelokan padanya dengan mengindahkan rupanya. Nisa gadis yang sangat cantik, kulitnya putih bersih, wajah yang begitu sempurna dengan tahi lalat di matanya. Bola mata yang indah dengan pancaran kecerdasan yang begitu jelas. Dia juga sangat wangi, wangi yang sangat lembut, yang sampai sekarang masih mampu ku ingat. Penampilannya sama dengan teman-teman kuliahku, jilbab kecil tipis yang dililit atau dipeniti dengan sangat rapi, dia sangat suka menggunakan jilbab merah dan pink, sangat cocok dengan kulitnya yang putih.</p>
<p><span id="more-451"></span></p>
<p>Awalnya aku hanya mampu mengaguminya sebagai teman yang cantik dan pintar. Namun aku tak begitu tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Bukannya aku minder, namun pola pikir kami yang kurasa berbeda. Selain itu aku mendengar dari beberapa temanku, kalau Nisa anaknya sombong dan individualis. Padahal kegiatan dikampus terutama di Laboratorium membutuhkan kerja sama dalam tiem dan kelompok. Ada pula yang mengatakan kalau dia sok pinter dan gak mau disaingi. Hal ini yang membuatku agak enggan mengenalnya lebih jauh. Hal lainnya karena aku seorang akhwat, selain dunia kampus, akupun disibukkan dengan amanah dakwah dimana-mana dan juga tarbiyah. Membuat waktuku betul-betul terkuras, sehingga kawan yang ku kenalpun hanya mereka yang juga bergelut didunia dakwah yaitu para akhwat-akhwat.</p>
<p>Namun aku kemudian merasa ada yang kurang dengan keseharianku, aku merasa dakwah fardiyah pada teman-teman yang pada dasarnya ku temui tiap hari sangatlah kurang. Padahal setiap harinya ku mengisi liqo dan membuat ta’lim dengan menghadirkan orang-orang yang tak kukenal. Lalu bagaimana mungkin teman-teman bahkan sahabatku dikampus tak tersentuh dengan dakwahku. Maka kumulai melirik mereka, membuat kajian jum’at dikampus dan akupun bergabung di BEM fakultasku.</p>
<p>Ada yang menarik dalam tiap kajian jumat yang aku adakan. Yah, aku selalu menemukan sosok Nisa di sana. Bahkan terkadang dia datang lebih dulu dari teman-teman yang lain yang notabene akhwat. Satu hal yang ku ingat darinya, dia selalu shalat tepat waktu. Terkadang aku malu, ketika di lab aku kadang begitu antusias melakukan praktikum, sehingga kadang aku mengabaikan azan Dzuhur atau azar, maka Nisa pasti selalu menhampiriku dan membisikkan padaku kalau telah azan lalu mengajakku ke masjid atau ruang shalat di Lab, dan memintaku untuk meletakkan gelas kimia atau pereaksi kimia dari tanganku itu. Nisa, semakin membuatku penasaran.</p>
<p>Aku semakin tertarik mengenalnya lebih dekat, Alhamdulillah Allah memberiku kesempatan mengenalnya lebih jauh. Pada suatu semester baru, aku ditempatkan satu kelompok dengan Nisa. Kelompok praktikum untuk matakuliah yang sangat susah dan membutuhkan banyak waktu dalam menyelesaikan laporan dan tugas. Akhirnya kami memutuskan untuk mengerjakan tiap hari tugas itu di rumah Nisa, yang kebetulan mempunyai referensi buku yang lumayan banyak. Jadilah aku tiap hari kerumahnya. Nisa gadis yang sangat bersih, rapi, dan teratur. Aku malu jika membandingkan kamarku dengan kamarnya, hehe.. aku berantakan, dan seenaknya meletakkan barang, tapi Nisa, dia bahkan melipat tiap kantong pelastik di rumahnya dan menyimpannya pada kardus kecil, sangat rapi.</p>
<p>Nisa mempunyai seorang kakak laki-laki, itu aku tahu ketika melihat foto keluarga pada bingkai kecil di kamarnya. Nisa tinggal berdua dirumah itu dengan kakaknya, sedangkan orangtuanya tinggal dikampung. Namun ketika ku tanyakan tentang kakaknya, dia terlihat murung, dia Cuma mengatakan kalau kakaknya tidak begitu dekat dengannya. Akupun tak mau terlalu mendesaknya untuk bercerita, aku tak mau membuatnya tak nyaman.. Namun aku cukup terkejut ketika tak sengaja aku melihat belasan botol obat didalam lemarinya, ketika kutanyakan, dia Cuma tersenyum dan mengatakan hanya vitamin biasa.</p>
<p>Aku dan Nisa semakin akrab sejak semester itu, dan sejak itu tak jarang dia curhat padaku. Tentang semuanya, tentang teman-temanya yang menganggapnya sombong, tentang keluarganya, tentang pacar-pacarnya, aku termasuk akhwat yang tak suka mendoktrin teman-temanku tentang larangan pacaran, kubiarkan mereka bercerita padaku tentang itu, lalu aku mengikuti tiap perkembangan hubungan mereka, sehingga akupun mendapat kepercayaan mereka, barulah ketika mereka mulai bermasalah dengan pacarnya atau mempertanyakannya pendapatku tentang pacaran, baru aku menyelipkan nasihat-nasihat tentang itu, sehingga obrolan yang pada dasarnya nasihat itu lebih berkesan diskusi atau curhat buat mereka dan aku tak sok menggurui, dan tak sedikit akhirnya temanku memutuskan pacarnya dengan trik seperti ini hehe.. tapi ini rahasia yah..</p>
<p>Hingga suatu hari, pada awal semester baru lagi, aku dan Nisa sepakat untuk memprogram mata kuliah yang semester lalu belum kami ambil, jadinya kami berdua harus kuliah denga yunior. Kuliahpun kami pilih hari sabtu pagi sebelum kuliah bahasa arab, hari yang bebas parktikum untuk kelas kami. Nisa punya kebiasaan untuk janjian denganku pada malam sabtunya lewat sms, dia akan menanyakan apakah aku akan ikut kuliah besok? Jika tidak diapun malas untuk datang… hemm kebiasaan buruk, tapi juga wajar, mana ada yang betah kuliah dengan yunior..</p>
<p>Suatu pagi dihari sabtu, selepas kami kuliah, sambil menunggu dosen dan teman-teman yang belum datang, kuliah berikutnya yaitu bahasa arab, aku duduk berdua dengan Nisa di depan kelas. Ruang kuliah sangat sepi, hanya ada aku dan Nisa yang datang cepat karena ada kuliah pagi. Waktu itu langit sangat mendung, bahkan gelap, pertanda hujan deras akan segera mengguyur kota Makassar siang itu. Ada yang berbeda dari Nisa yang biasanya ceria, pagi itu dia diam dan sedikit murung, matanya sembab sangat jelas dia baru saja menangis. Aku lalu bertanya padanya ada apa?</p>
<p>Dia hanya diam, dan menggeleng, akupun mendesaknya untuk bercerita. Hingga akhirnya dia lalu menyingkap roknya dan memperlihatkan betisnya. Allah, aku terkejut, begitu banyak memar di betisnya, lalu dia memperlihatkan lengannya, kulit putihnya kini berhiaskan lebam-lebam biru kehijauan. Ada apa denganmu teman?</p>
<p>Dia lalu bercerita, kalau sejak kecil dia menderita Epilepsi (ayan), jika penyakitnya kumat, kepalanya seakan dialiri jutaan watt listrik, begitu sakit sehingga jika dia tak tahan sakitnya, diapun kejang-kejang tak sadarkan diri, di beru saja tadi pagi kambuh di kamar mandi ketika sedang mencuci, beruntung kakaknya masih di rumah, sehingga dia segera tertolong. Semua badanya lebam dan memar karena terbentur tembok dan barang-barang saat kejang-kejang. Dia bercerita sambil menangis, dia harus menelan puluhan tablet penenang tiap harinya, yang jika terlambat sedikit saja dia konsumsi, akan membuat penyakit epilepsinya kambuh. Selain itu, tekanan dan kecapaianpun dapat menyebabkannya kumat. Dia malu jika penyakitnya kambuh ditengah banyak orang, bagaimana jika auratnya terbuka ketika dia tak sadarkan diri ketika kejang, dan itu telah sering terjadi. Dia lelah, kadang dia mempertanyakan kepada Allah, kenapa mesti dia yang mengalaminya, dia punya banyak cita-cita, ingin mempunyai apotek, ingin bekerja di Balai POM, dia ingin segera menikah dan punya anak. Namun ketika ia menyadari Epilepsi yang dideritanya dapat merenggut nyawanya kapan saja, dia lalu menangis dan sangat sedih. Lalu kembali pertanyaan itu hadir, kenapa harus dia? Kenapa bukan orang-orang yang selama hidupnya hanya berbuat sia-sia dengan maksiat? Kenapa bukan orang yang tak menghargai hidupnya yang selalu ingin bunuh diri hanya dengan masalah picisan? Aku ingin lebih baik, masih banyak hal yang ingin aku capai. Dia mengatakan padaku satu hal yang tak akan pernah kulupakan. “Aztri, kamu tahu? Kenapa selama ini begitu masuk azan, aku akan bergegas shalat, karena aku takut, jika aku menunda shalatku, lalu kemudian ternyata Allah membuat penyakitku kumat, dan lalu aku mati sebelum menunaikan shalat. Penyakitku pisa kambuh kapan saja, itu berarti aku dapat diambilNya kapan saja” katanya dengan isak tangis. Sungguh, pemikiran yang sederhana, namun mampu menghempaskanku ke titik nol. Aku yang begitu paham makna takdir dan ajal, namun tak pernah memikirkan dengan begitu nyata. Aku kadang berfikir Ajalku masih sangat jauh, bahkan kadang tanpa aku sadari aku merasa hanya orang lain yang akan mengalami kematian. Bukan, bukannya aku tak percaya ajal, tapi ada kalanya kita begitu tenggelam dengan dunia sehingga kemudian melupakan tamu yang dapat datang kapan saja itu.. ajal… kematian..</p>
<p>Lalu Nisa pun mengatakan padaku, “Aztri, aku takut mati, aku takut tak mampu mempertanggung jawabkan perbuatanku selama hidup ini. Apa yang harus kukatakan pada Allah nanti. Aku mau mati dalam keadaan terbaikku, tapi bagaimana jika penyakitku kumat di kamar mandi, seperti tadi pagi? Aku tak mau mati di kamar mandi, tempat yang kotor, bagaimana jika aku dalam keadaan aurat yang terbuka, aku malu menemui Allah dengan keadaan seperti itu. Bagaimana jika Allah mengambilku ketika aku serangan dan aku tak mampu menyebut namanya karena dalam keadaan tak sadar? Aku tak mampu menahan air mataku, akupun ikut menangis. Baru kali itu aku merasa kematian begitu dekatnya. Tanpa sadar dalam hati aku berdoa “Ya Rabb, penguasa Alam semesta, barilah akhir yang baik pada kami..”</p>
<p>Sejak itu aku semakin dekat dengan Nisa, dia pun mulai mengikuti tarbiyah, dia mulai memanjangkan jilbabnya, yang tadinya dia lilit, kini dia mulai menutupkan ke dadanya. Kemana-mana aku bersamanya. Teman-temanpun heran melihatnya, bagaimana mungkin aku bisa tiba-tiba akrab dengannya.</p>
<p>Pada suatu sabtu pagi, aku ke kampus seperti biasa, hari ini ada kuliah dengan Nisa, namun yang aku herankan, sejak semalam aku menunggu sms Nisa, tapi tak ada satupun, akupun meng smsnya apa dia mau kuliah atau tidak, namun smsku pun tak dibalas sejak subuh. Aku piker mungkin pulsanya habis. Sesampaiku di kampus, aku baru tahu kalu sabtu itu ada wisuda, jadi semua kegiatan perkuliahan di tiadakan. Aku mencari Nisa ke mana-mana, dari kelas ke kelas, ku tanyak pada teman-teman apa ada yang melihatnya. Namun tak satupun yang melihatnya pagi itu. Aku lalu berfikir mungkin dia sudah tahu hari ini kuliah diliburkan maka dia tak datang kekampus. Aku pun pulang tanpa memikirkannya lagi.</p>
<p>Namun pada pukul 10 malam. tepatnya malam ahad, ketika aku sedang berkumpul dengan keluargaku, tiba-tiba telpon pun bordering, aku mengangkatnya tanpa prasangka apa-apa. Namun ternyata yang menelpon adalah temen kuliahku, dia memberitakan berita yang seketika mampu melemaskan semua persendianku.. Nisa meninggal dunia, entah jam berapa, namun mayatnya baru ditemukan tadi jam 09.00 malam dalam keadaan kaku dan membiru, tertelungkup di kamarnya. Seolah aku tak berpijak di bumi, langit di atasku seolah runtuh. Selanjutnya aku langsung menuju kerumahnya ku tahan air mataku seolah ini hanya berita bohong, aku masih berharap menemukan Nisa di rumahnya dan menyambutku di depan pintu dengan senyuman seperti biasa. Namun sesampiku di sana, lorong ke rumahnya telah penuh dengan kerumunan warga setempat, raungan serine ambulans sejak tadi terdengar. Ku singkap kerumunan, orang-orang yang mengenalku dekat dengan Nisa segera memberiku jalan, bergegas ku ke ambulansnya, dan kutemukan sosok yang sangat kusayangi, sahabatku Nisa dalam balutan selimut, tubuhnya kaku dengan posisi tak biasa, wajahnya telah membiru dan bengkak. Allah, apa yang dia khawatirkan terjadi. Nisa sahabatku, ada apa denganmu? Kenapa jadi begini?</p>
<p>Badanku tiba-tiba limbung di depan pintu ambulans, sebuah tangan menangkapku sambil membisikkan istigfar ke telingaku, ternyata dia salah seorang akhwat temanku dikampus. Dibimbingnya aku ke kamar Nisa, ku dapati kamarnya berantakan tak rapi seprti biasa, kertas berhamburan dimana-mana, obat-obatnya berserakan dimana-mana. Salah seorang temanku menceritakan padaku. Nisa baru ditemukan kakaknya tadi ketika dia pulang pukul 09.00 malam, tak ada yang tahu pukul berapa Nisa meninggal namun jika melihat kondisi kamarnya, dimana lampu yang masih menyala dan tirai yang masih tertutup, kemungkinan dia meninggal kemarin malam, hari itu dia sendiri di rumah, tak ada yang menemaninya. Barulah ketika kakaknya pulang pukul 09.00 malam dia menelpon dan HPnya berbunyi di kamarnya, tapi Nisa tak mengangkatnya. Dan di temukan Nisa telah kaku dan membiru..</p>
<p>Allah… bagaimana mungkin secepat ini, sempatkah ia menyebut namaMu? Betapa sakitnya sakaratul maut yang ia rasakan, dan dia menghadapinya sendiri, Rabb adakah namaMu dia ucapkan? Baru saja kurasa mengenalnya, baru saja dia mengatakan ingin mengenal islam lebih jauh, beru kemarin ku rasa dia mengatakan ingin menggunakan jilbab lebar sepertiku. Masih dapat ku ingat dengan jelas ketika aku bermain ke rumahnya, dia minta aku meminjamkan jilbab hitam lebar yang aku gunakan saat itu sebentar saja. Dia memakainya berdiri di depan cermin dengan senyuman yang sangat manis, Nisa begitu cantik dengan jilbab lebar yang aku pinjamkan padanya. Lalu dia memperagakan wajah malu-malu katanya jika ada ikhwan yang mengkhitbahnya, dia akan mengangguk malu seperti ini. Aku tertawa terpingkal-pingkal saat itu, namun sekarang ketika mengingatnya malah yang kurasakan perih yang amat sangat, di sini, di hatiku..</p>
<p>Teman membisikkan kalau ambulans yang mengantar jenazah menuju ke kampung halamanya akan segera berangkat, Nisa akan dikebumikan di kampungnya, kami pun berkumpul di sekitar ambulans mengantar kepergian Nisa. Melihatnya untuk terakhir kalinya, Serine segera menggelgar, memecah keheningan malam saat itu, Ambulans yang berisi jasad Nisa terlah pergi, Nisa tak ada lagi, namun di sini di hati ini dia tetap ada, Semangat hidupnya menjadi kakuatanku, Nisa sahabatku yang cantik, selamat jalan. Sampaikan salamku pada Rabb kita, Aku yakin niatmu yang tulus telah terukir dengan indah di buku amalanmu. Tersenyumlah kawan, kau begitu cantik dengan senyummu..  Tunggu aku, akupun pasti akan menyusulmu, di sana  di JannahNya.. pergilah.. Kulepas kau dengan ikhlas.. Dengan Senyum..</p>
<p>Sumber: catatan teman Facebook.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-islam/'>Artikel Islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-motivasi-2/'>Artikel Motivasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/keluarga/'>Keluarga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah/'>Kisah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah-hikmah/'>Kisah Hikmah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah-nyata-2/'>Kisah Nyata</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/akhwat/'>akhwat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/dakwah/'>dakwah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/dakwah-kampus/'>dakwah kampus</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/epilepsi/'>epilepsi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/fakultas/'>fakultas</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/farmasi/'>farmasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kahwat-ngaji/'>kahwat ngaji</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kontrakan/'>kontrakan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/mahasiswi/'>mahasiswi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/mati/'>mati</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/meninggal/'>meninggal</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/ngaji/'>ngaji</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pengajian/'>pengajian</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/praktikum/'>praktikum</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/sakit/'>sakit</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/semester/'>semester</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/shalat/'>shalat</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/tahlil/'>tahlil</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/tugas/'>tugas</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/universitas/'>universitas</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/451/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=451&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/04/14/kisah-nyata-ku-lepaskan-kau-dengan-senyuman%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Risalah Untuk Ukhti Yang Akan Menikah</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/03/30/risalah-untuk-ukhti-yang-akan-menikah/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/03/30/risalah-untuk-ukhti-yang-akan-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 05:21:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[cucu]]></category>
		<category><![CDATA[kerja sambil nikah]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah dan kerja]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan islami]]></category>
		<category><![CDATA[risalah pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[setuju]]></category>
		<category><![CDATA[status menikah]]></category>
		<category><![CDATA[ukhti]]></category>
		<category><![CDATA[wali nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu`alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh Ukhti… semoga Allah Ta`ala selalu menjagamu dalam ketaatan. Aku tidak tahu harus berbuat apa yang terbaik ketika aku sadar dengan apa yang terjadi pada sahabatku ukhti Muslimah, aku sadari juga aku bukanlah orang yang tepat &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/03/30/risalah-untuk-ukhti-yang-akan-menikah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=445&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu`alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh</p>
<p>Ukhti… semoga Allah Ta`ala selalu menjagamu dalam ketaatan.</p>
<p>Aku tidak tahu harus berbuat apa yang terbaik ketika aku sadar dengan apa yang terjadi pada sahabatku ukhti Muslimah, aku sadari juga aku bukanlah orang yang tepat untuk berbicara masalah ini, tapi sebagai sahabatmu, inilah risalah untukmu ukhti Muslimah…</p>
<p><span id="more-445"></span>Terpikir olehku bagaimana bahagianya orang tua dan keluarga ketika ia melihat hadirnya seorang cucu dari anaknya sendiri, dan semua itu tak akan terjadi tanpa adanya sebuah ikatan suci yang mendahuluinya, yaitu sebuah pernikahan. Sebuah kata yang sakral, yang barangkali tak pernah terpikir sebelumnya bagaimana peliknya, atau bahkan belumlah terpikir bagaimana bahagianya, hidup bersama dengan orang yang begitu kita cintai, teman dan bukan hanya sekedar teman, bahkan ia adalah teman tanpa batas, seorang teman dari lawan jenis yang halal bagi kita.</p>
<p>Mungkin itu hanyalah sebuah pendahuluan yang tak berarti, Karena boleh saja untuk engkau lewati, tapi pasti tadi telah terbaca (-jangan bilang tidak), he he he…</p>
<p>Beralih ke pembicaraan kita …</p>
<p>Rasulullah telah bersabda dalam salah satu haditsnya bahwa seorang wanita itu dipilih karena empat perkara; namun, yang paling diutamakan adalah agamanya, kenapa? Karena dengan menikahi wanita yang beragama niscaya insya Allah hidupnya akan selamat baik itu di dunianya maupun di akhiratnya, begitu juga dengan wanita tak jauh beda haruslah ia juga memilih seorang laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya itu seorang yang beragama, karena ia adalah akan menjadi pemimpin dalam sebuah keluarga. Dan yang akan bertanggung jawab di akhirat kelak tentang bagaimana kepemimpinannya di keluarganya (-karena yang kita bicarakan di sini adalah tentang itu).</p>
<p>Sekarang aku bertanya: sudah siapkah engkau dengan semua itu?</p>
<p>Ketika ada seorang yang datang kepadamu, apa yang engkau pikirkan? Apa yang engkau inginkan darinya? Kriteria yang bagaimanakah yang engkau dambakan? Apakah semua itu sudah ada padanya?</p>
<p>Kalau engkau pandang bagaimana agamanya, maka itulah yang ahsan, sebaik-baik pilihan. Karena dialah yang akan mendampingimu di dunia maupun di akhirat, insya Allah. Kalau yang engkau inginkan adalah seorang yang bisa menjagamu, menjaga agamamu, manjaga harga dirimu, maka itu juga bukan merupakan pilihan yang salah. Ataukah engkau inginkan seorang yang bisa menafkahimu baik lahir ataukah batin, bisa membahagiakanmu, maka demikianlah yang didambakan oleh setiap wanita. Ok! Kemudian apakah semua itu telah ada padanya?</p>
<p>Hanya dirimu yang bisa menjawabnya. Pikirkanlah.</p>
<p>Menikah… takut? Ragu? Ataukah perasaan apalagi?</p>
<p>Takut dengan orang tua yang nggak mengijinkanmu menikah saat ini?</p>
<p>Ragu apakah akan bisa mendapatkan pekerjaan setelah status menikah?</p>
<p>Ukhti… semoga Allah Ta`ala selalu menolongmu.</p>
<p>Barangkali suatu hal yang wajar ketika halangan untuk menikah adalah dari orang tua kita sendiri, barangkali mereka takut putrinya tidak bisa bekerja untuk membantu suamiya, terkadang yang banyak terjadi adalah perkataan sebagian orang: &#8220;Masak sih kami sebagai orang tuamu yang sudah menyekolahkanmu sampai setinggi ini akhirnya hanya menikah tanpa mencari kerja dulu…&#8221; Dan mungkin banyak perkataan serupa yang bisa saja keluar dari keluarga kita. Dan… semua itu akan kembali pada sejauh mana kita bisa mendekati mereka, mengajak bicara mereka, menasihati mereka kepada kebaikan dan ketaqwaan.</p>
<p>Ukhti… semoga Allah Ta`ala senantiasa menolongmu.</p>
<p>Berapa kali harus aku katakan, hendaklah kita bersabar dalam mendakwahi mereka…</p>
<p>Sungguh mereka itu adalah belum mengerti dan semoga Allah memberikan kepada kita petunjuk dan hidayah kepada mereka dan kepada kita. Wahai ukhti, berilah mereka pengertian dengan cara yang baik dan nasihat yang menyembuhkan dengan senantiasa berdoa memohon kepada Allah agar diberi kemudahan.</p>
<p>Kalau saja mereka para orang tua dapat berpikiran seperti apa yang kita pikirkan, barangkali pernikahan itu bukanlah sebuah permasalahan, hanya saja, terkadang masing-masing orang mempunyai keunikan sendiri-sendiri, ada yang orang tuanya sudah mengijinkan, justru anaknya belum siap, alasannya macam-macam, ada yang bilang merasa belum mampu untuk menjalaninya (-terus kapan?), ada yang bilang juga gak siap, ada yang bilang… banyak deh! (-tahu kan maksudku?)</p>
<p>Nah, masalah datang ketika kita semakin menunda-nunda pernikahan itu, apalagi bagi seorang wanita, pernah terpikir gak? Bagaimana ketika usia itu semakin bertambah, kita sudah tersibukkan oleh pekerjaan duniawi, sampai-sampai lupa memikirkan tentang menikah, bahkan gak terpikir lagi untuk menikah… aku yakin engkau bukan termasuk tipe ini. Hanya saja, sudahkah niatmu bulat untuk menikah? sudahkah engkau menargetkan di usia berapa akan menikah? Kembali lagi ke pertanyaan di atas, kriteria yang bagaimanakan yang engkau dambakan? Jangan sampai semua itu berlalu sia-sia hanya karena kesibukan dunia semata.</p>
<p>Kemudian untuk artikel pernikahan, atau menuju ke sana, aku gak bisa merujuknya secara tepat; nah, mungkin aku sarankan untuk membaca majalah-majalah seperti Majalah Nikah, Majalah Asy Syariah dalam halaman Sakinah, atau majalah lain yang Islami tentunya banyak engkau jumpai di toko buku atau internet…</p>
<p>Barangkali itu dulu aja yang bisa aku tuliskan, semoga ada manfaatnya bagi kita. Kalau  ada benarnya itu datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, adapun jika terdapat banyak salah dan keliru itu datangnya adalah dari kebodohanku dan dangkalnya keilmuanku. Jadi, luangkan waktumu sekedar untuk mengkritisi kata-kataku atau sekedar jawaban dari pernyataan-pernyataanku di atas. Wallahu a’lam.</p>
<p>Jazakillahu khairan atas semuanya semoga Allah memberikan barakahNya kepadamu.</p>
<p>Assalamua`alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.</p>
<p>By: <a href="http://myheane.wordpress.com/2011/03/30/risalah-untuk-ukhti-yang-akan-menikah/" target="_blank">heane</a>.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-islam/'>Artikel Islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-motivasi-2/'>Artikel Motivasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kajian-islam/'>Kajian Islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/keluarga/'>Keluarga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/anak/'>anak</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/cucu/'>cucu</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/kerja-sambil-nikah/'>kerja sambil nikah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/menikah/'>menikah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/nikah/'>nikah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/nikah-dan-kerja/'>nikah dan kerja</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pernikahan/'>pernikahan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pernikahan-islami/'>pernikahan islami</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/risalah-pernikahan/'>risalah pernikahan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/setuju/'>setuju</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/status-menikah/'>status menikah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/ukhti/'>ukhti</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/wali-nikah/'>wali nikah</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/445/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=445&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/03/30/risalah-untuk-ukhti-yang-akan-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memahami makna cinta</title>
		<link>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/03/28/memahami-makna-cinta/</link>
		<comments>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/03/28/memahami-makna-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Mar 2011 05:52:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tadzkirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[cadar]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hak istri]]></category>
		<category><![CDATA[hak suami]]></category>
		<category><![CDATA[hakim]]></category>
		<category><![CDATA[khawatir]]></category>
		<category><![CDATA[makarimul akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pengadilan]]></category>
		<category><![CDATA[pengadilan agama]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[pulang]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[saksi]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>
		<category><![CDATA[suami istri]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>
		<category><![CDATA[tuntutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tadzkirah.wordpress.com/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, ada seorang istri muslimah yang taat. Dia memegangi syariat berjilbab dengan baik, sehingga menutup wajahnya dari laki-laki  yang bukan mahromnya. Suatu saat dia menuntut suaminya untuk memberikan beberapa haknya, tetapi suaminya mengingkarinya. Akhirnya istri ini pun mengadukanya di &#8230; <a href="http://tadzkirah.wordpress.com/2011/03/28/memahami-makna-cinta/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=441&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari, ada seorang istri muslimah yang taat. Dia memegangi syariat berjilbab dengan baik, sehingga menutup wajahnya dari laki-laki  yang bukan mahromnya. Suatu saat dia menuntut suaminya untuk memberikan beberapa haknya, tetapi suaminya mengingkarinya. Akhirnya istri ini pun mengadukanya di pengadilan agama. Pada saat sidang hakim berkata pada istri,</p>
<p>&#8221; Engkau harus menghadirkan beberapa orang saksi&#8221;</p>
<p><span id="more-441"></span>Tatkala para saksi telah hadir, hakim pun berkata pada si istri, &#8221; Sekarang bukalah cadarmu, agar para saksi bisa mengenalimu&#8221;</p>
<p>Melihat si istri akan membuka cadarnya di hadapan para saksi dan laki-laki lainya yang tidak halal melihat kecantikanya, suaminya tiba-tiba mengatakan &#8221; Tidak, wahai hakim..! Jangan anda meminta istri saya membuka wajahnya. Baiklah saya telah mengaku telah menahan hak-haknya&#8221;</p>
<p>Mendengar perkataan suaminya tersebut&#8217; si istri langsung berdiri lalu beranjak menuju suaminya dan duduk disampingnya, kemudian ia berkata pada hakim, &#8221; Aku bersaksi kepada anda wahai hakim, aku telah melepas hak-hakku dari suamiku, dan aku telah membebaskanya dari tuntutanku&#8221;</p>
<p>Hakim pun lalu berkata, &#8221; Tulislah hal ini didalam makarimul akhlak (akhlak-akhlak yang terpuji) &#8220;.</p>
<p>MasyaAlloh&#8230;</p>
<p>Benar benar ketulusan cinta. Tetapi siapa yang mengetahuinya..?</p>
<p>Boleh saja seorang istri mengatakan,&#8221; Aku tidak mencintai suamiku..!!&#8221; Boleh saja seorang suami mengatakan,&#8221; Aku tidak bisa mencintai istriku&#8221; Namun tentunya boleh juga kita mengatakan,&#8221; Bagaimana bila aku tidak percaya..?&#8221;</p>
<p>Pasalnya siapa yang akan mengingkari cerita cinta diatas adalah cerita cinta.? Ya, memang benar, itulah cinta.</p>
<p>Jadi, apa yang mendorong suami untuk ingin segera pulang menemui istrinya bila bukan cinta..? Apakah yang menjadikan istri gundah gulana dan khawatir saat suaminya belum juga pulang kalau bukan cinta..? Apa pula yang menjadikan suami gundah dan khawatir saat melihat istrinya dalam keadaan sakit bila bukan cinta..?</p>
<p>Memang banyak suami atau istri yang memahami cinta lain dari yang kita sebutkan. Akan tetapi, betapa banyak suami dan istri yang memahami cinta dengan pemahaman lain, yang mengatakan bahwa dirinya tidak mencintai pasanganya, namun saat istri atau suaminya sedang sakit atau semacamnya, ia merasa sangat cemas, bahkan perasaan itu seolah-olah hampir membunuhnya. Apalagi kalau bukan cinta..?</p>
<p>Maka sebagaimana kau mencintainya, yakinlah bahwa ia juga mencintaimu.</p>
<p>[Di nukil dari majalah <a href="http://almawaddah.or.id/" target="_blank">al mawaddah</a>, vol.39]</p>
<br />Filed under: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-islam/'>Artikel Islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/artikel-motivasi-2/'>Artikel Motivasi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kajian-islam/'>Kajian Islam</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/keluarga/'>Keluarga</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah/'>Kisah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/kisah-hikmah/'>Kisah Hikmah</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/category/motivasi/'>Motivasi</a> Tagged: <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/akhlak/'>akhlak</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/cadar/'>cadar</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/cemas/'>cemas</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/cerita-cinta/'>cerita cinta</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/cinta/'>cinta</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/hak-istri/'>hak istri</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/hak-suami/'>hak suami</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/hakim/'>hakim</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/khawatir/'>khawatir</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/makarimul-akhlak/'>makarimul akhlak</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pengadilan/'>pengadilan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pengadilan-agama/'>pengadilan agama</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/perasaan/'>perasaan</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/pulang/'>pulang</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/sakit/'>sakit</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/saksi/'>saksi</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/suami/'>suami</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/suami-istri/'>suami istri</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/takut/'>takut</a>, <a href='http://tadzkirah.wordpress.com/tag/tuntutan/'>tuntutan</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tadzkirah.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tadzkirah.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tadzkirah.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tadzkirah.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tadzkirah.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tadzkirah.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tadzkirah.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tadzkirah.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tadzkirah.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tadzkirah.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tadzkirah.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tadzkirah.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tadzkirah.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tadzkirah.wordpress.com/441/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tadzkirah.wordpress.com&amp;blog=17538665&amp;post=441&amp;subd=tadzkirah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tadzkirah.wordpress.com/2011/03/28/memahami-makna-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">tadzkirah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
